Konsep falsifikasi sebagai fondasi ilmu dalam epistemologi Karl Popper. Popper menolak tradisi induktivisme positivistik yang menganggap ilmu berkembang melalui verifikasi akumulatif, dan mengajukan falsifiabilitas sebagai kriteria utama keilmuan. Menurut Popper, suatu teori hanya dapat dianggap ilmiah jika membuka kemungkinan untuk diuji dan dibantah oleh bukti empiris. Melalui pendekatan conjectures and refutations, Popper menekankan bahwa ilmu bersifat tentatif, selalu dapat direvisi, dan berkembang melalui proses kritik rasional yang berkelanjutan. Kajian ini juga menyoroti implikasi falsifikasi terhadap metodologi penelitian modern, termasuk pentingnya rumusan hipotesis yang spesifik, desain penelitian yang memungkinkan pengujian ketat, serta sikap ilmiah yang terbuka terhadap koreksi. Analisis menunjukkan bahwa meskipun falsifikasionisme Popper memberikan kontribusi signifikan bagi fondasi epistemologi ilmu, ia tetap menghadapi kritik terkait praktik ilmiah aktual dan keterbatasannya dalam disiplin non-eksperimental. Namun demikian, falsifikasi tetap menjadi kerangka penting dalam memahami dinamika perkembangan ilmu dan objektivitas dalam penelitian.
Copyrights © 2025