Era digital telah membawa perubahan fundamental pada dinamika organisasi modern, termasuk cara individu berinteraksi, cara bekerja, serta pola kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kinerja organisasi. Namun, disrupsi digital juga mengikis nilai-nilai kepemimpinan spiritual yang selama ini diyakini mampu menguatkan integritas pemimpin dan kesejahteraan mental karyawan. Kepemimpinan spiritual menekankan dimensi transendental, seperti makna pekerjaan, empati, altruism, serta kesadaran moral dan spiritual yang mendalam, yang terbukti meningkatkan komitmen, produktivitas, sertamoral kerja dalam berbagai studi organisasi kontemporer. Di tengah dominasi teknologi digital, tekanan perubahan cepat dan ekspektasi hasil yang tinggi sering kali menyebabkan konflik nilai, ketidakseimbangan kerja–kehidupan, serta stres digital yang memengaruhi kesehatan mental pekerja. Secara paralel, nilai kepemimpinan spiritual yang seharusnya menjadi basis integritas pemimpin mengalami degradasi karena tekanan target, dominasi KPI, dan budaya kerja hiper-digital yang mendorong optimasi kuantitas di atas kualitas hubungan interpersonal. Fenomena ini berdampak pada meningkatnya tingkat burnout, tekno-stres, dan penurunan kepuasan kerja, yang memperlihatkan kebutuhan kuat akan model kepemimpinan yang mengintegrasikan dimensi spiritual, etika kerja, dan kesejahteraan psikologis. Artikel ini mengkaji bukti empiris hubungan antara kepemimpinan spiritual, integritas pemimpin, dan kesehatan mental di lingkungan kerja digital melalui kajian terhadap literatur jurnal dan buku teori kepemimpinan terkini. Rangkuman temuan menunjukkan bahwa menguatkan spiritualitas dalam gaya kepemimpinan dapat memperbaiki kualitas lingkungan kerja digital yang sehat secara psikologis serta meneguhkan integritas pemimpin sebagai fondasi keberlanjutan organisasi di era digital.
Copyrights © 2026