Pertumbuhan populasi Jakarta yang terus meningkat berdampak langsung pada peningkatan mobilitas masyarakat sehingga pemerintah mendorong pengembangan transportasi massal berbasis rel, seperti MRT Jakarta dan LRT Jakarta, sebagai alternatif mobilitas yang lebih efisien, terjangkau, dan berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Meskipun demikian, kedua perusahaan tersebut masih menghadapi tantangan keuangan karena bergantung pada subsidi pemerintah untuk menjaga keberlangsungan operasional, yang menandakan adanya potensi financial distress apabila pendapatan tidak mampu menutupi biaya operasional dan kewajiban jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi financial distress pada PT MRT Jakarta dan PT LRT Jakarta selama periode 2020-2024, menggunakan model Grover dan Springate. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif dengan data laporan keuangan tahunan kedua perusahaan. Sampel yang digunakan adalah laporan keuangan PT MRT Jakarta dan PT LRT Jakarta untuk periode 2020-2024. Kedua model digunakan untuk memprediksi financial distress berdasarkan rasio keuangan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Grover lebih akurat dalam memprediksi kondisi financial distress dibandingkan dengan model Springate. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya pemilihan model prediksi yang tepat untuk perusahaan transportasi publik berbasis rel dalam menjaga stabilitas keuangan dan menghindari risiko financial distress.
Copyrights © 2026