Penelitian ini mengulas konflik agraria lokal yang berpusat pada upaya penebangan Pohon Randu Alas keramat di samping kompleks Makam Mbah Ronggo Kesumo. Permasalahan muncul ketika risiko keamanan publik akibat ranting pohon yang lapuk memicu wacana penebangan dari sebagian warga, yang kemudian berhadapan dengan penolakan keras dari kelompok masyarakat lain yang menjunjung tinggi nilai sakral pohon tersebut. Konflik ini tidak hanya mencerminkan perselisihan sosial-lingkungan, tetapi juga perebutan otoritas narasi dalam merumuskan kebijakan lokal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam bagaimana tokoh agama (pemuka Islam setempat) berperan sebagai penjaga dan mediator narasi yang memengaruhi pembentukan kebijakan penanganan pohon keramat tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interviews) dengan para tokoh dan pihak terkait, serta analisis dokumen dan arsip naratif konflik (Conflict Narrative Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh agama tidak bersifat homogen; mereka terbagi menjadi tiga kelompok utama: pro-penebangan (berbasis rasionalitas keamanan dan fiqh), kontra-penebangan (berbasis penghormatan tradisi lokal dan spiritual), serta kelompok penengah. Pengaruh mereka membentuk narasi yang krusial, mulai dari wacana keselamatan hingga legitimasi spiritual, yang pada akhirnya mendikte arah resolusi konflik. Simpulan utama adalah bahwa dalam konflik agraria yang melibatkan situs keramat, otoritas narasi tokoh agama menjadi variabel penentu bagi pembentukan kebijakan lokal. Dialog sosial yang dimediasi oleh tokoh penengah menghasilkan solusi kompromi yang menyeimbangkan kepentingan publik (keamanan) dan kepentingan spiritual-tradisional (pelestarian).
Copyrights © 2025