Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman cemas berbicara pada individu dalam konteks komunikasi interpersonal maupun publik. Kecemasan berbicara muncul sebagai respons psikologis yang ditandai rasa takut terhadap penilaian negatif, ketegangan emosional, dan reaksi secara fisik yang menghambat kelancaran penyampaian pesan. Studi ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan pengamatan terhadap partisipan yang memiliki pengalaman kecemasan dalam berbicara. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecemasan disebabkan oleh pengalaman negatif masa lalu, rendahnya kepercayaan diri, dan situasi sosial yang dianggap mengancam, terutama ketika berhadapan dengan figur penting. Dampaknya terlihat pada perilaku komunikasi, seperti minimnya kontak mata, sulit mengekspresikan ide, dan munculnya gejala fisik seperti tremor serta keringat dingin. Strategi coping yang dilakukan partisipan, seperti latihan pernapasan, persiapan materi, dan penghindaran situasi, belum sepenuhnya efektif, terutama karena penghindaran justru dapat meningkatkan kecemasan. Temuan penelitian menegaskan bahwa kecemasan berbicara merupakan fenomena beragam dan rumit yang memerlukan pendekatan intervensi menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan kebahagiaan psikologis individu.
Copyrights © 2026