Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap sistem pembayaran di Indonesia, salah satunya melalui implementasi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Meski penggunaannya semakin meluas, tingkat adopsi QRIS di Sumatera Barat, termasuk Kota Padang, masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap penggunaan QRIS sebagai alat pembayaran digital, mencakup persepsi konsumen dan pelaku usaha mengenai manfaat, kemudahan, hambatan, serta faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan mereka terhadap inovasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner kepada 20 responden yang terdiri dari 10 konsumen dan 10 pedagang di 11 kecamatan Kota Padang. Analisis dilakukan dengan teknik analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum masyarakat Kota Padang memiliki persepsi positif terhadap QRIS. Sebagian besar responden menilai QRIS sebagai media pembayaran yang mudah, cepat, efisien, higienis, dan aman. Namun, sejumlah kendala juga ditemukan, seperti keterbatasan jaringan internet, potensi kegagalan transaksi, rendahnya literasi digital pada kelompok usia tertentu, serta kekhawatiran pedagang terhadap biaya MDR (Merchant Discount Rate). Meskipun demikian, QRIS dipandang sebagai solusi strategis dalam mendukung digitalisasi ekonomi dan peningkatan efisiensi transaksi di masyarakat, sehingga hasil penelitian ini berimplikasi bagi pemerintah daerah, perbankan, dan penyedia layanan pembayaran digital untuk merumuskan strategi peningkatan literasi digital, perbaikan infrastruktur jaringan, serta penyesuaian kebijakan biaya MDR yang lebih adaptif guna mendorong adopsi QRIS secara lebih inklusif dan berkelanjutan di Kota Padang.
Copyrights © 2026