Dalam literatur hadis, ada sekian hadis yang sepintas problematik secara makna (musykil), di antaranya hadis tentang “Muslim makan dengan satu usus dan non-muslim makan dengan tujuh usus”. Hadis ini seringkali dipahami secara tesktual sehingga secara teologis, antropologis, dan etis akan menjadi problematis. Pemahaman tekstual terhadap hadis ini berpotensi menimbulkan kesan diskriminatif serta bertentangan dengan realitas empiris dan prinsip Islam yang rahmat li al-‘alamin. Artikel ini bertujuan untuk melakukan reinterpretasi hadis tersebut melalui pendekatan Musykil al-Hadits dan hermeneutika. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif kepustakaan dengan melakukan analisis terhadap kitab hadis primer, syarah klasik, serta literatur kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis tersebut bersifat simbolik dan etis, bukan biologis. Hadis ini menegaskan perbedaan orientasi hidup dan etika konsumsi antara muslim dan non-muslim, bukan perbedaan hakikat kemanusiaan. Dengan demikian, reinterpretasi ini meneguhkan relevansi hadis dalam konteks modern sebagai kritik terhadap gaya hidup konsumtif dan hedonistik
Copyrights © 2026