Perkembangan teknologi deepfake menghadirkan tantangan baru dalam ekosistem digital, terutama terkait penyebaran disinformasi, penipuan identitas, dan eksploitasi visual yang berdampak pada keamanan siber serta perlindungan hak individu. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan karakteristik penyalahgunaan deepfake, menilai kesiapan tata kelola kecerdasan buatan (AI governance), serta mengidentifikasi arah pengembangan strategi mitigasi yang efektif. Metode Systematic Literature Review (SLR) digunakan dengan mengacu pada protokol PRISMA, melibatkan proses seleksi ketat terhadap 20 artikel yang diperoleh dari database Scopus menggunakan kriteria inklusi–eksklusi yang terstandar. Hasil kajian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, penyalahgunaan deepfake meningkat secara signifikan di ranah media sosial dan keamanan siber, dengan kelompok rentan menunjukkan tingkat deteksi yang rendah. Kedua, tata kelola AI yang ada masih bersifat reaktif dan belum mampu mengikuti dinamika perkembangan teknologi. Ketiga, terdapat kesenjangan antara performa teknologi deteksi deepfake di lingkungan terkontrol dan efektivitasnya pada konteks dunia nyata. Kajian ini menyimpulkan bahwa mitigasi deepfake memerlukan pendekatan multidimensional yang mengintegrasikan inovasi teknologi, reformasi kebijakan, literasi digital yang inklusif, serta perlindungan korban. Temuan ini membuka peluang bagi pengembangan kebijakan yang lebih adaptif dan aplikatif dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan akuntabel.
Copyrights © 2025