Rumah Larva Indonesia (RLI) sebagai unit usaha mikro menghadapi kendala keterbatasan diversifikasi produk dan lemahnya strategi pemasaran. Sebelum program, RLI hanya memproduksi maggot BSF (Hermetia illucens) segar (10-15 kg/minggu) tanpa pengolahan lanjutan, kemasan berlabel, maupun akses pasar digital. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas RLI melalui diversifikasi produk berbasis pengolahan maggot menjadi tepung dan pelet pakan alternatif, serta penguatan pemasaran digital. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif meliputi koordinasi dan pemetaan kebutuhan, sosialisasi program, pelatihan teknis (pengolahan maggot menjadi tepung dan pelet, formulasi pakan, pemasaran digital), penerapan teknologi tepat guna (mesin penepung kapasitas 50-60 kg/jam, pencetak pelet 10-20 kg/jam, biopond dengan sistem migrasi otomatis), dan pendampingan intensif. Hasil menunjukkan peningkatan kapasitas produksi dengan terciptanya produk baru berupa tepung maggot (5-7 kg/minggu) dan pelet maggot (10 kg/minggu), sementara produksi maggot segar tetap stabil (10-15 kg/minggu). Peningkatan kapasitas mitra mencapai rata-rata 80,1% meliputi pengetahuan teknis produksi (74,6%), keterampilan teknis produksi (83,3%), manajemen usaha (91,3%), dan pemasaran-branding (94,7%). Transformasi pemasaran ditandai dengan tersedianya kemasan berlabel, identitas merek, akun media sosial aktif (Instagram, Facebook), dan toko daring Shopee yang mulai menerima pesanan dari luar wilayah lokal. Dampak ekonomi meliputi peningkatan nilai jual produk 20-30% dan proyeksi pendapatan 1,5-2 kali lipat. Program menghasilkan luaran publikasi ilmiah, artikel media massa, video dokumentasi, dan SOP produksi. Model usaha berkelanjutan berbasis pemanfaatan limbah organik ini dapat direplikasi sebagai solusi ekonomi sirkular yang mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi
Copyrights © 2026