Implementasi Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional menuntut transformasi kompetensi guru matematika, khususnya di daerah tertinggal seperti Alor, Nusa Tenggara Timur. Penelitian kualitatif ini mengeksplorasi strategi peningkatan kompetensi guru matematika dalam menghadapi AN melalui pendekatan fenomenologi dengan melibatkan 24 guru matematika SMP dan SMA di Alor. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan analisis dokumen perencanaan pembelajaran selama periode Agustus–November 2024. Temuan menunjukkan bahwa guru menghadapi tantangan signifikan dalam memahami literasi numerasi berbasis konteks, mengintegrasikan higher-order thinking skills (HOTS), dan memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran adaptif. Strategi yang terbukti efektif meliputi: (1) pelatihan berbasis komunitas praktik (community of practice) dengan pendampingan berkelanjutan; (2) pengembangan bank soal numerasi kontekstual berbasis kearifan lokal; (3) kolaborasi lesson study untuk perbaikan praktik pembelajaran; dan (4) pemanfaatkan platform digital untuk self-directed learning. Analisis data empiris menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan guru merancang instrumen penilaian berbasis literasi numerasi (rata-rata skor meningkat dari 62,4 menjadi 78,6) dan mengimplementasikan pembelajaran berorientasi HOTS (dari 58,3 menjadi 75,2) setelah intervensi selama empat bulan. Implikasi penelitian menekankan pentingnya dukungan sistemik dari pemerintah daerah, kolaborasi multipihak, dan keberlanjutan program pengembangan profesional guru di wilayah terpencil untuk menjamin keadilan mutu pendidikan nasional.
Copyrights © 2026