Perkembangan teknologi digital telah memunculkan jurnalisme media sosial yang memungkinkan siapa pun menjadi produsen informasi. Fenomena ini membuka ruang partisipasi publik, namun juga menimbulkan risiko framing bias terhadap kelompok sosial, termasuk komunitas pendatang. Penelitian ini bertujuan menelaah praktik framing dalam jurnalisme media sosial dan implikasinya terhadap representasi komunitas pendatang melalui tinjauan literatur tematik. Kajian ini mengidentifikasi 10 artikel dari basis data bereputasi (Scopus, Sinta, DOAJ) dengan kriteria inklusi: membahas framing, media sosial, dan representasi pendatang. Hasil sintesis menunjukkan dua pola framing dominan: negatif (pendatang sebagai ancaman keamanan, beban sosial, dan kriminalitas) dan positif (pendatang sebagai kontributor ekonomi, pelestari budaya, dan penguat solidaritas). Faktor algoritmik dan logika viralitas memperkuat bias negatif karena konten emosional lebih mudah mendapat atensi. Implikasi komunikatif framing negatif mencakup penguatan stereotip dan eksklusi sosial, sedangkan framing positif berpotensi membangun inklusi meskipun daya sebarannya lemah. Studi ini menegaskan urgensi literasi media dan komunikasi inklusif bagi audiens, jurnalis, dan platform digital untuk mengurangi dampak framing bias. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan analisis big data di platform populer seperti TikTok dan Instagram untuk memahami dinamika framing secara real-time.
Copyrights © 2026