Permukiman sempadan Sungai Karang Mumus di Samarinda telah eksis sejak lama dan membentuk pola hunian khas yang erat dengan dinamika sosial-ekonomi masyarakat. Keberlanjutan hunian ini menimbulkan tantangan ekologis dan tata ruang kota, khususnya terkait program relokasi ke rumah susun sederhana sewa (Rusunawa). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi karakteristik invasi ruang dan fleksibilitas spasial masyarakat sempadan sungai serta implikasinya terhadap penerimaan hunian vertikal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis concept-based research melalui observasi lapangan, pemetaan aktivitas, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa invasi ruang terjadi pada ranah domestik, sosial, dan ekonomi, sementara fleksibilitas ruang tercermin dalam negosiasi batas privat, semi privat, dan publik. Temuan ini mengindikasikan adanya mekanisme adaptasi khas yang membentuk gaya hidup masyarakat sempadan, yang sering kali luput dalam perancangan Rusunawa. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan desain hunian kolektif adaptif serta mendukung kebijakan perencanaan kota berkelanjutan di kawasan tepi air.
Copyrights © 2025