Pamali merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang hidup dan mengakar dalam masyarakat Banjar sebagai mekanisme pengendalian sosial, pendidikan moral, dan perlindungan sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dalam praktiknya pamali sering kali dipahami secara tekstual dan mistis sehingga berpotensi bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dialektika antara adat dan Islam dalam praktik pamali masyarakat Banjar melalui analisis wacana tokoh masyarakat serta pendekatan ushul fiqih. Penelitian ini menggunakan metode empiris kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat Desa Galam Rabah Kabupaten Banjar, observasi non-partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menggunakan konsep 'urf dan maslahah mursalah sebagai kerangka analisis normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pamali tidak dipahami secara tunggal oleh tokoh masyarakat, melainkan mengalami proses reinterpretasi dari makna mistis menuju makna rasional, etis, dan edukatif. Pamali yang mengandung nilai kemaslahatan sosial dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dapat diterima sebagai 'urf shahih dan bagian dari maslahah mursalah, sementara pamali yang mengandung keyakinan terhadap kekuatan selain Allah dikategorikan sebagai 'urf fasid dan perlu ditinggalkan. Penelitian ini menegaskan bahwa dialektika adat dan Islam dalam pamali Banjar bersifat adaptif dan selektif, di mana adat direkonstruksi agar selaras dengan tujuan syariat (maqasid al-syariah).
Copyrights © 2026