cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 550 Documents
Opinions and Attitudes of the Head of the Office of Religious Affairs in the City of Banjarmasin Regarding Lawsuits for Marriages During the Iddah Period which Have Been Inkracht Fadillah, Muhammad Amin
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.2

Abstract

ABSTRACT This research is based on cases of marriages with an iddah term of fewer than 90 days but already inkracht as confirmed in the decision 230/Pdt.G/2022/PA.Bjm. The Head of the Office of Religious Affairs recorded the decision to continue the process. Initial observations of many Offices of Religious Affairs (KUA) in Banjarmasin show that each has a different approach to this issue. This seeks the Head of the Office of Religious Affairs (KUA)'s views on the marriage confirmation litigation during the iddah period, which is already inkracht. The Head of Banjarmasin's Office of Religious Affairs' rationale and legal foundation. This qualitative empirical legal research produces analytical descriptive data. Observation and interviews collected data. The Office of Religious Affairs (KUA) in North, West, and Central Banjarmasin has three heads. The purpose is Banjarmasin's Office of Religious Affairs Head's Opinion and Attitude. Research findings: from 3 informants who argued, the Head of the Central Banjarmasin Religious Affairs Office (KUA) attempted to confirm by examining documents related to marriage certificate issuance and coordinating with the court as a precaution in processing the marriage certificate results based on PP No. 9 of 1975 Article 6 paragraph (2). Based on Article 1 paragraph 1 of Law Number 22 of 1946, the Head of the West Banjarmasin Religious Affairs Office (KUA) believes that following court orders without confirmation or re-examination is acceptable. Based on article 24 Paragraph 1 of the 1945 Law, the Banjarmasin Religious Affairs Office (KUA) head also tends towards this. The registrar registers them if they follow the procedures. Repeat the marriage contract if ordered, emphasising that there is no confirmation. Keywords: Opinions, Attitudes, Marriage Isbat, Iddah, Inkracht ABSTRAK Penelitian ini didasarkan pada kasus perkawinan yang masa iddahnya kurang dari 90 hari namun sudah inkracht sebagaimana dikukuhkan dalam putusan 230/Pdt.G/2022/PA.Bjm. Kepala Kantor Agama mencatat keputusan melanjutkan proses tersebut. Pengamatan awal terhadap berbagai Kantor Urusan Agama (KUA) di Banjarmasin menunjukkan bahwa masing-masing Kantor Urusan Agama (KUA) mempunyai pendekatan berbeda terhadap persoalan ini. Hal ini untuk mencari pandangan Kepala Kantor Agama (KUA) terhadap gugatan pengukuhan perkawinan pada masa iddah yang sudah inkracht. Dasar pemikiran dan landasan hukum Kepala Kantor Agama Banjarmasin. Penelitian hukum empiris kualitatif ini menghasilkan data deskriptif analitis. Observasi dan wawancara mengumpulkan data. Kantor Urusan Agama (KUA) Banjarmasin Utara, Barat, dan Tengah mempunyai tiga kepala. Maksudnya adalah Pendapat dan Sikap Kepala Kantor Agama Banjarmasin. Temuan penelitian: dari 3 informan yang berargumen, Kepala Kantor Agama (KUA) Banjarmasin Pusat berupaya melakukan konfirmasi dengan memeriksa dokumen terkait penerbitan akta nikah dan berkoordinasi dengan pihak pengadilan sebagai langkah pencegahan dalam pengurusan hasil akta nikah berdasarkan PP No. 9 Tahun 1975 Pasal 6 ayat (2). Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946, Kepala Kantor Agama (KUA) Banjarmasin Barat berpendapat, mengikuti perintah pengadilan tanpa konfirmasi atau pemeriksaan ulang dapat diterima. Berdasarkan pasal 24 Ayat 1 UU Tahun 1945, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Banjarmasin pun cenderung demikian. Panitera mendaftarkannya jika mengikuti prosedur. Ulangi akad nikah jika diperintahkan, tekankan bahwa tidak ada konfirmasi. Kata Kunci : Pendapat, Sikap, Isbat Nikah, Iddah, Inkracht
Review Of Islamic Law On The Sale And Purchase Of Sacrificial Animal Skins Among The Community Ulfah, Putri Rahmaida; Sairazi, Abdul Hafiz; Ruslan, Ruslan; Khairiyah, Khairiyah; Saputri, Dika Idha; Madinah, Nuril
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.3

Abstract

ABSTRACT This study examines the Review of Islamic Law Regarding the Sale and Purchase of Sacrificial Animal Skins Among the Community. Sacrifice is the ritual of slaughtering livestock such as goats, sheep, cows and buffaloes. Sacrifice is carried out by Muslims who can afford it on Eid al-Adha. The purpose of this research is to find out how the practice of buying and selling qurban animal skins is in the community? To find out how the review of Islamic law regarding the sale and purchase of sacrificial animals among the community? This study used a descriptive qualitative research method and the collection technique was carried out by collecting data by observing and interviewing the parties who were used as research informants. The interview technique that was carried out was by asking questions, one of which was via the media via WhatsApp to people I knew who I often saw or witnessed the buying and selling process of the sacrificial animals. The results of the research I got showed that usually people do this because they need to buy plastic to wrap, buy food and even drink for the slaughterers and even the money can also be used for their own personal interests. In Islamic law, it is forbidden to sell parts of the qurban animal in the form of meat, head, legs, bones and skin. Therefore, the law is clear that based on the Qur'an, hadith and the opinions of the scholars, it is argued that the sale and purchase of the skins of sacrificial animals is prohibited. Keywords: buy and sell, sacrificial animal skins ABSTRAK Penelitian ini mengkaji mengenai Tinjauan Hukum Islam Mengenai Jual Beli Kulit Hewan Qurban Di Kalangan Masyarkat. Kurban adalah ibadah penyembelihan hewan ternak seperti kambing,domba,sapi,dan kerbau. Berkurban dilakukan oleh umat muslim yang mampu pada Idul Adha.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana praktik jual beli kulit hewan qurban ini di kalangan masyarakat? Untuk mengetahui bagaimana tinjauan hukum Islam mengenai jual beli hewan qurban di kalangan masyarakat?Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan teknik pengumpulan nya dilakukan dengan mengumpulkan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dari para pihak yang dijadikan informan penelitian. Teknik wawancara yang dilakukan adalah dengan bertanya tanya salah satunya dengan media via whatsapp kepada orang yang saya kenal yang saya ketahui sering melihat atau menyaksikan proses jual beli hewan qurban tersebut. Hasil penelitian yang saya dapatkan menunjukkan bahwa biasanya orang melakukan hal tersebut karena kebutuhan ingin membeli plastik untuk membungkus,membeli makanan bahkan minuman untuk para penyembelih nya bahkan uangnya bisa juga digunakan untuk kepentingan pribadi masing masing. Di dalam Hukum Islam Jual Beli kulit hewan qurban hukumnya adalah haram menjual sebagian dari hewan qurban baik berupa daging,kepala,kaki,tulang,dan kulit. Oleh sebab itu,jelas hukumnya bahwa berdasarkan al-qur’-an,hadis dan pendapat para ulama berpendapat bahwa jual beli kulit hewan qurban dilarang. Kata Kunci : Jual Beli, Kulit Hewan Qurban
Study of Understanding of MSME Actors in Balangan Regency on Trademark Rights Muhammad Noor Ridani; Muhammad Rafly; Muhammd Haris
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.6

Abstract

ABSTRACTTrademark is a crucial thing for producers as a hallmark of a product, especially to MSMEs as the largest contribution to the national economic generation after Covid-19, the author hopes that MSME actors have legal awareness regarding trademarks because it is a differentiator of a product from other products and focuses on one of the areas in Hulu Sungai South Kalimantan, namely Balangan Regency. This article aims to find out how public legal awareness of trademark rights and provide an understanding to MSME actors of the importance of registering a product's trademark. The writing of this article uses empirical juridical research methods, namely interviewing directly to the object of research so as to get accurate answers from the perspective of business actors so that they can provide suggestions on the problems obtained so as to produce a study that in the area especially which is the object of this research and compare it with trademark legislation, from the results of the study it can be concluded that the community of MSME actors in Balangan Regency is very interested in trademark registration but they do not really understand how the trademark registration procedure to provide legal protection to their products.Keywords: Legal Effects, Intellectual Property Rights, Trademark Rights, MSMEs. ABSTRAK Merek merupakan hal yang krusial bagi produsen sebagai ciri khas sebuah produk terutama kepada UMKM selaku sumbangsih terbesar pembangkit ekonomi nasional pasca Covid-19, penulis berharap pelaku UMKM memiliki kesadaran hukum berkenaan dengan perihal merek karena ia merupakan pembeda sebuah produk dengan produk lainnya dan berfokus ke salah satu daerah di Hulu Sungai Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Balangan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kesadaran hukum masyarakat terhadap hak merek dan memberikan pemahaman kepada pelaku UMKM betapa pentingnya pendaftaran merek suatu produk. Penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian yuridis empiris, yaitu mewawancarai langsung kepada objek penelitian sehingga mendapat jawaban yang akurat dari perspektif pelaku usaha sehingga dapat memberikan saran terhadap permasalahan yang didapat sehingga menghasilkan sebuah penelitian bahwa di daerah khususnya yang menjadi objek penelitian ini dan membandingkannya dengan Perundang-undangan merek, dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat pelaku UMKM di Kabupaten Balangan sangat tertarik mengenai pendaftaran merek tetapi mereka belum terlalu memahami bagaimana prosedur pendaftaran merek untuk memberikan perlindungan hukum pada produknyaKata Kunci : Akibat Hukum, Hak Kekayaan Intelektual, Hak Merek, UMKM
Review of Islamic Law on Keeping Pets That Defile Neighbors' Houses and Eat at Neighbors' Houses Musaddiq, M Azhar; Hafidzi, Anwar
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.9

Abstract

ABSTRACT This research examines the habits of pets owned by neighbors who often disturb and dirty neighbors' houses and also sometimes eat food belonging to neighbors without the knowledge or permission of the homeowners. The purpose of this research is to find out what is the law if keeping neighbors' pets often pollutes the neighbors' houses and sometimes eats the neighbor's food without the knowledge or permission of the home owner. What causes this problem to occur frequently in several residential areas. Even though everyone agrees that it is a disgraceful act to disturb other people's comfort and take what is not rightfully theirs, this research has differences from the legal approach to maintaining it. The research method used in this study is a field research method that often occurs at the researcher's house and around the researcher's house, namely the Pamukan Utara District of Kotabaru and is analyzed descriptively qualitatively, namely the discussion obtained by collecting data from interviews and sources of Islamic literature such as the Qur'an, hadith, and the opinion of the scholars regarding the problem of disturbing neighbors and eating something that does not belong to them. From the results of this study it can be concluded that keeping pets that pollute the neighbor's house and eating at the neighbor's house without the knowledge or without the permission of the owner of the house is illegal because it is a sin. This problem often arises in the community, and it is important for the community to know about the law in order to create harmony, Keywords : Raising Pets, Disturbing, Neighbor's House ABSTRAK Penelitian ini mengkaji mengenai kebiasaan binatang piaraan punya tetangga sekitar yang sering mengganggu dan mengotori rumah-rumah tetangga dan juga terkadang memakan makanan punya tetangga tanpa sepengetahuan atau tanpa seizin pemilik rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hukumnya jika memelihara binatang-binatang piaraan tetangga yang sering mengotori rumah-rumah tetangga dan terkadang memakan makanan punya tetangga tanpa sepengetahuan atau tanpa seizin pemilik rumah. Apa yang menyebabkan permasalahan ini sering terjadi di beberapa daerah pemukiman warga. Meskipun semua sepakat mengganggu kenyamanan orang lain dan mengambil yang bukan haknya adalah merupakan perbuatan tercela, tapi penelitian ini memiliki perbedaan dari pendekatan hukum memeliharanya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan yang sering terjadi di rumah peneliti dan sekitaran rumah peneliti yaitu daerah Kecamatan Pamukan Utara Kotabaru dan dianalisis secara deskriptif kualitatif, yaitu pembahasan yang diperoleh dengan mengumpulkan data dari wawancara dan sumber kepustakaan Islam seperti Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama yang berkenaan dengan permasalahan mengganggu tetangga dan memakan sesuatu yang bukan hak miliknya. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa memelihara binatang piaraan yang mengotori rumah tetangga dan makan dirumah tetangga tanpa sepengetahuan atau tanpa seizin pemilik rumah hukumnya adalah haram karena itu perbuatan dosa. Permasalahan ini sering muncul di lingkungan masyarakat, dan masyarakat penting mengetahui terkait bagaimana hukumnya agar terciptanya kerukunan, kenyamanan, dan ketenangan dalam bertetangga. Kata Kunci : Memelihara Binatang Piaraan, Mengganggu, Rumah Tetangga
Islamic Law Review of Banjar Community Customs on "Mandi-Mandi Manujuh Bulanan Afif, Muhammad Wildan; Sulaiman Kurdi; Muhammad Fahmi Nurani; Hagis Adetiana; M. Nadhif Ardiaputra; Bunga Lestari
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.10

Abstract

The study aspect of this research is the Banjar community's custom for women who are seven months pregnant, in which a traditional procession is carried out in which the woman is bathed by her parents, grandmother, and family relatives in turn. The purpose of this research is to find out how an Islamic legal review is taken from the implementation of the Banjar community for generations. With this custom occurring in Indonesia, especially the Banjar tribe, although it is known that when a wife is pregnant in Islam, she can pray and put her trust in Allah ﷻ, but this research has differences in the approach to the meaning of the concept. The research method used in this research is a field research method that occurs in several places in the city of Banjarmasin and is analyzed descriptively qualitatively, namely the discussion obtained by collecting data from interviews and literature sources about the seven-month bath which is then examined using a review of Islamic law. From the results of this study it can be concluded that the custom or custom of bathing seven monthly there are those who say it is not allowed and there are also those who say it is allowed in Islamic law, because something is a matter of difference of opinion in fiqh is a natural thing. The term "Mandi-Mandi Manujuh Bulanan" appears among the Banjar people because it is more widely known, although in fact this "bamandi-mandi" custom for the Banjar people there are many kinds and certain conditions. Aspek kajian pada penelitian ini adalah oleh masyarakat Banjar dalam melakukan adat bagi perempuan yang hamil tujuh bulan yang dilaksanakan suatu prosesi adat dari perempuan tersebut dimandikan oleh orang tuanya perempuannya, neneknya, maupun kerabat keluarganya secara bergantian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana suatu tinjauan hukum islam yang diambil dari pelaksanaan masyarakat Banjar tersebut secara turun menurun. Dengan kebiasaan tersebut terjadi di Indonesia khususnya suku Banjar yang walaupun sudah dapat diketahui bahwa ketika istri hamil dalam Islam dapat dido'akan dan bertawakal kepada Allah ﷻ, namun penelitian ini memilik perbedaan dari pendekatan maksud dari konsep itu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan yang terjadi di beberapa tempat di kota Banjarmasin dan dianalisis secara deskriptif kualitatif, yaitu pembahasan yang diperoleh dengan mengumpulkan data dari wawancara dan sumber kepustakaan tentang mandi tujuh bulanan yang kemudian ditelaah dengan menggunakan tinjauan hukum Islam. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kebiasaan atau adat mandi tujuh bulanan itu ada yang menyatakan tidak boleh dan ada juga yang mengatakan boleh dalam hukum Islam, karena sesuatu hal persoalan dalam perbedaan pendapat pada fiqih adalah suatu hal yang wajar. Adaphn Istilah "Mandi-Mandi Manujuh Bulanan" ini muncul di kalangan masyarakat Banjar karena lebih banyak dikenal, meskipun sebenarnya adat "bamandi-mandi" ini bagi masyarakat Banjar terdapat banyak macam dan keadaan tertentu.
The Effectiveness of Mediation as a Dispute Resolution for e-book Copyright Infringement Cases in Indonesia: (Case Studies Occurring in the Jakarta and Riau Areas) M. Sanusi Helmi; Muhammad Noor Ridani; Muhammd Haris; Sulistyoko, Arie
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.12

Abstract

ABSTRACT The effectiveness of Mediation as a dispute resolution of e-book copyright infringement cases in Indonesia related to case studies that occurred in Jakarta and Bandung is more precisely regulated in Law Number 28 of 2014 concerning Copyright. The problem of this research is how examples of e-book copyright infringement cases and how the effectiveness of Mediation in resolving disputes over e-book copyright infringement. The objectives of this study are, first, to determine the forms of copyright infringement relating to e-books. Second, to review and analyze the effectiveness of mediation as a settlement of copyright infringement disputes in the manufacture of e-books through cases that have occurred in the Republic of Indonesia. The research method used is the normative juridical method. This method specializes in legal principles, namely UUHC. The results showed that the forms of copyright infringement in the manufacture of e-books, namely, first, pirates make copies (unauthorized copies) of e-books illegally, hidden and unknown to others, let alone law enforcement and taxation. second, downloading e-books with the aim of distribution or for commercial purposes. third, printing e-books that have been purchased is included in the act of copying creation. fourth, changing the format of a book into an e-book and including the author's name without prior notice to the author of the book is included in the category of infringement. The effort found in both cases is mediation through the DJKI institution in accordance with the provisions of Article 95 paragraph (4) of the UUHC which expressis verbis regulates that criminal charges can only be filed if the parties to the dispute have taken mediation efforts, this regulation is the ultimum remedium. Keywords : E-Books, Mediation, Copyright Infringement. ABSTRAK Efektivitas Mediasi sebagai penyelesaian sengketa kasus pelanggaran hak cipta e-book di Indonesia terkait studi kasus yang terjadi di Jakarta dan Bandung lebih tepatnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah contoh kasus pelanggaran Hak Cipta e-book dan bagaimanakah efektivitas Mediasi dalam menyelesaikan sengketa terhadap pelanggaran Hak Cipta e-book. Tujuan dari penelitian ini adalah, pertama, untuk mengetahui bentuk-bentuk pelanggaran hak cipta yang berkaitan dengan e-book. Kedua, untuk mengkaji dan menganalisis efektivitas mediasi sebagai penyelesaian sengketa pelanggaran hak cipta dalam pembuatan e-book melalui kasus-kasus yang pernah terjadi di Negara Republik Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif. Metode ini mengkhususkan pada asas-asas hukum yaitu UUHC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk pelanggaran hak cipta dalam pembuatan e-book yaitu, pertama, pembajak membuat salinan (copy tanpa izin) e-book secara ilegal, tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang lain, apalagi penegak hukum dan perpajakan. kedua, mengunduh e-book dengan tujuan untuk disebarkan atau untuk tujuan komersil. ketiga, mencetak e-book yang sudah dibeli termasuk dalam perbuatan menyalin ciptaan. keempat, merubah format sebuah buku menjadi e-book dan mencantumkan nama pengarangnya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada pengarang buku tersebut sudah termasuk dalam kategori pelanggaran. Upaya yang ditemukan pada kedua kasus tersebut adalah mediasi melalui lembaga DJKI sesuai dengan ketentuan Pasal 95 ayat (4) UUHC yang secara expressis verbis mengatur bahwa tuntutan pidana baru dapat diajukan apabila para pihak yang bersengketa telah menempuh upaya mediasi, peraturan ini bersifat ultimum remedium. Kata Kunci : E-Book, Mediasi, Pelanggaran Hak Cipta.
Review Of Islamic Law Regarding Placing Piduduk During Walimah Events Due To Hereditary Traditions In The Banjar Community Diana Rahmi; Anwar Hafidzi; Novita, Novita; Norjannah; Emiril Rozaq
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.13

Abstract

ABSTRACT Piduduk is a custom from our ancestors that is still practiced by the Banjar community at every walimah. Piduduk is not an offering in general, but as a guard to avoid the disturbance of spirits. Piduduk contains rice, coconut fruit, brown sugar, chicken eggs and also money. Piduduk is generally placed in the lower corner of the aisle, in the bride's room, or in other special places. Some people consider that piduduk is part of shirk because it asks for protection from other than God. And there is also an assumption that some people put piduduk because they follow customs, not believing in it as a guardian. The research method used in this research is field research method and analyzed descriptively qualitative, namely the discussion obtained by collecting data from interviews and literature sources about shirk. From the results of this study it can be concluded that the piduduk tradition according to the review of Islamic law is `urf, namely custom or habit, which is to preserve Banjar cultural customs, but the negative side of this tradition is feared to shift religious beliefs. Keywords: Piduduk, Banjar cultural customs, custom or habit ABSTRAK Piduduk adalah adat istiadat dari nenek moyang terdahulu yang masih dilakukan oleh masyarakat Banjar pada setiap pelaksanaan walimah. Piduduk bukan sesajen pada umumnya, melainkan sebagai penjagaan agar terhindar dari gangguan makhluk halus. Piduduk berisi beras, buah kelapa, gula merah, telur ayam dan juga uang. Piduduk pada umumnya diletakkan di sudut bawah pelaminan, di kamar pengantin, atau di tempat khusus lainnya. Sebagian orang menganggap bahwa piduduk bagian dari syirik karena meminta penjagaan kepada selain Allah. Dan ada juga anggapan sebagian orang meletakkan piduduk karena mengikuti adat istiadat saja bukan mempercayai sebagai penjagaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan dan dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu pembahasan yang diperoleh dengan mengumpulkan data dari wawancara dan sumber-sumber kepustakaan tentang kesyirikan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tradisi piduduk menurut tinjauan hukum islam merupakan `urf yaitu adat atau kebiasaan, yang mana untuk melestarikan adat kebudayaan Banjar, namun sisi negatif dari tradisi ini adalah ditakutkan menggeser keyakinan dalam beragama. Kata Kunci : Piduduk, adat kebudayaan Banjar, adat atau kebiasaan.
Islamic Law Guidelines Regarding The Banjar People's Belief In Using Turmeric And Whiting To Cure "Kepidaraan" Lestari, Bunga; Hafidzi, Anwar; Layli Nor Syifa; Muhammad Ilham Nadhir; Irwanda Fikri; Hayatun Na`Imah; Dr. H. Hamdan Mahmud, M.Ag
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.14

Abstract

ABSTRACT This research examines the beliefs of the Banjar people in carrying out bapidara, namely the culture of overcoming fever which is believed to be caused by disturbances from spirits, also called kepidaraan. Treatment is done using natural ingredients such as turmeric and whiting. Bapidara has been a tradition for generations of the Banjar people and not just anyone can do it. Fever can be cured by applying a concoction of turmeric and whiting accompanied by reciting several mantras. The method used in this study is a qualitative descriptive analysis method, namely analyzing data obtained from interviews and field observations. From the results of this study, it can be concluded that this bapidara treatment does not deviate from Islamic law, basically turmeric and betel lime have their own benefits that can treat fever and also the readings used are certain verses contained in the Koran. Suggestions and beliefs also affect conditions, regarding the disturbance of these spirits, they return to their respective beliefs. Keywords: Bapidara, Banjar, Turmeric and Whiting.   ABSTRAK Penelitian ini mengkaji mengenai kepercayaan masyarakat Banjar dalam melakukan bapidara yaitu budaya mengatasi demam yang dipercaya karena gangguan makhluk halus, disebut juga dengan kepidaraan. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan bahan alami seperti kunyit dan kapur sirih. Bapidara sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Banjar dan tidak sembarang orang dapat melakukannya, demam dapat sembuh dengan mengoleskan ramuan kunyit dan kapur sirih disertai dengan membaca beberapa mantra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif, yaitu menganalis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan lapangan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengobatan bapidara ini tidak menyimpang dari hukum islam, pada dasarnya kunyit dan kapur sirih memiliki manfaat tersendiri yang bisa mengobati demam dan juga bacaan yang digunakan adalah ayat-ayat tertentu yang terdapat didalam al-quran. Sugesti dan keyakinan juga mempengaruhi kondisi, mengenai gangguan makhluk halus ini kembali lagi pada kepercayaan masing-masing. Kata kunci: Bapidara, Banjar, Kunyit dan Kapur Sirih.
Review Of Islamic Law Regarding The Beliefs Of The Banjar Community Regarding Pamali And Kapuhunan In Their Daily Lives Firdaus, Zein; Aisyah Magfirah; Mahdaniah; Abdul Hadi; Imam Alfiannoor; Ergina Faralita,MH; Fuad Luthfi, S.Ag, MH
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.15

Abstract

ABSTRACT This research examines the Banjar people's habit of believing in pamali and kapuhunan. As indigenous Banjar people, most of them strongly believe in pamali and kapuhunan, where pamali is an oral language that contains prohibitions or taboos while kapuhunan is a local myth in Kalimantan which means bad luck or disaster that we experience when we refuse the food offered or do not have time to eat the food that has been served. The purpose of this research is to find out how the level of belief of the Banjar people about the myths that have been passed down from generation to generation, indeed these two things are just myths among the Banjar people but until now there are still many Banjar people who believe in these two things because they are also considered so sacred for them. The research method used in this study is a field research method that takes place in several areas of Banjar district and is analyzed descriptively qualitatively, namely the discussion obtained by collecting data from interviews and decision sources about the perspective of views on the belief in the pamali and kapuhunan myths among the Banjar people. From the results of this research it can be concluded that the beliefs about pamali and kapuhunan among the Banjar community should be abandoned because it can lead to negative perceptions of this myth that make the local community become anxious and start to worry if they violate certain behaviors it will have bad consequences and in kapuhunan it will also have bad consequences if they do not have time to eat the food that has been served. The anxiety they feel is influenced by their own thoughts. If we make positive thoughts about the meaning of pamali and kapuhunan it could be that the disaster did not happen to us. Keywords: Pamali, Kapuhunan, Perception   ABSTRAK Penelitian ini mengkaji mengenai kebiasaan masyarakat Banjar dalam mempercayai pamali dan kapuhunan. Sebagai masyarakat Banjar asli kebanyakan sangat mempercayai yang namanya pamali dan kapuhunan yang mana pamali tersebut merupakan bahasa lisan yang isinya berupa larangan atau pantangan sedangkan kapuhunan ialah sebuah mitos masyarakat lokal di Kalimantan yang artinya kesialan atau bencana yang kita alami ketika kita menolak makanan yang ditawarkan atau tidak sempat memakan makanan yang telah dihidangkan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat Banjar tentang mitos yang ada turun menurun, memang kedua hal ini cuman menjadi mitos belaka di kalangan masyarakat Banjar akan tetapi sampai sekarang pun masih banyak masyarakat Banjar yang mempercayai kedua hal tersebut dikarenakan juga dianggap begitu sakral bagi mereka. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan yang terjadi di beberapa daerah kabupaten Banjar dan dianalisis secara deskriptif kualitatif, yaitu pembahasan yang diperoleh dengan mengumpulkan data dari wawancara dan sumber keputusan tentang perspektif pandangan terhadap kepercayaan mitos pamali dan kapuhunan di kalangan masyarakat Banjar. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan tentang pamali dan kapuhunan di kalangan masyarakat Banjar tersebut lebih baik ditinggalkan karena dapat menimbulkan persepsi negatif dari mitos ini yang membuat masyarakat setempat menjadi was-was dan mulai cemas jika mereka melanggar perilaku tertentu maka akan berdampak buruk dan dalam kapuhunan juga akan berakibat buruk jika tidak sempat memakan makanan yang telah dihidangkan. Kecemasan yang mereka rasakan dipengaruhi oleh pikiran mereka sendiri jika kita membuat pikiran positif mengenai makna dari pamali dan kapuhunan bisa jadi musibah itu tidak menimpa kita. Kata kunci: Pamali, Kapuhunan, Persepsi
Review of Islamic Law on the Lease of Agricultural Land Payment by Harvest (Case Study of Sungai Gampa Asahi Village) Nasrulllah; Prof. Dr. H. Ahmadi Hasan; Farihatni Mulyati, M.Ag; Heny Handayani; Putri Ramadanti; Muhammad Saifullah; Nur Rika
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 1 No. 2 (2023): The Development of Islamic Law and Culture in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v1i2.16

Abstract

ABSTRACT This study discusses "a review of Islamic law regarding leasing of agricultural land, payment for the harvest in the village of Sungai Gampa Asahi, Rantau Badauh District, Barito Kuala District".  What is called leasing must involve at least 2 parties.  The first is the party that leases the land, the two parties are willing to work on the land.  Likewise with the habit of renting in the village of Sungai Gampa Asahi where residents often make leases but the payment system is in the form of crops.  What's interesting about the habit of leasing agricultural land in Sungai Gampa Asahi Village is that when the tenant pays the rent, that is by means of the harvest.  It can be known that the harvest every year is not fixed.  Sometimes it's good, sometimes it doesn't work at all.  The method used in this study is a field research method and analyzed by means of descriptive qualitative.  Namely the data obtained from interviews and library sources about leasing.  From this study it can be concluded that the leases made by the residents of Sungai Gampa Asahi Village are not appropriate because the payment system with the harvest is not clear in it so it will be detrimental to the tenants. Keywords: Islamic law, leasing, payment of crops.   ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang "tinjauan hukum Islam tentang sewa-menyewa lahan pertanian pembayarannya dengan hasil panen di desa Sungai gampa asahi Kecamatan Rantau badauh kabupaten Barito Kuala".  Yang namanya sewa-menyewa pasti  melibatkan minimal 2 pihak. Pertama pihak yang menyewakan lahannya,  kedua pihak yang bersedia Untuk menggarap lahannya tersebut. Begitu juga dengan kebiasaan sewa-menyewa yang ada di desa sungai gampa asahi ini yang mana warganya  sering mengadakan sewa-menyewa tetapi sistem pembayarannya dengan cara hasil panen. Yang menarik dari kebiasaan sewa-menyewa lahan pertanian yang ada di desa sungai gampa asahi ini adalah, ketika penyewa nantinya akan membayarkan sewanya, yaitu dengan cara hasil panen.  Yang mana dapat diketahui bersama bahwa hasil panen itu setiap tahunnya tidak tetap. Terkadang bagus, terkadang tidak dapat panen sama sekali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan dan dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif. Yaitu data yang diperoleh hasil dari wawancara dan sumber  kepustakaan tentang sewa-menyewa. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sewa-menyewa yang dilakukan oleh warga desa sungai gampa asahi kurang tepat dikarenakan sistem pembayaran dengan hasil panen ini tidak ada kejelasan di dalamnya jadi akan merugikan penyewa. Kata kunci : Hukum islam, Sewa-menyewa, pembayaran hasil panen

Page 1 of 55 | Total Record : 550