Peningkatan kasus Diabetes Mellitus (DM) pada lansia di Kabupaten Bulukumba menuntut inovasi layanan kesehatan berbasis komunitas yang lebih partisipatif. Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran kader dalam meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup lansia melalui penerapan terapi komplementer dan pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan 24 kader dari 3 dusun di Desa Bontobangun. Kegiatan meliputi pelatihan terapi SEFT, akupresur, senam kaki diabetik, perawatan kaki, peracikan ramuan herbal, dan pembentukan Rumah Komplementer. Hasilnya menunjukkan peningkatan kompetensi kader sebesar 85%, peningkatan pengetahuan keluarga lansia sebesar 70%, serta terbentuknya tiga rumah komplementer dan tiga kebun TOGA aktif. Program berdampak pada peningkatan kemandirian lansia, efisiensi biaya pengobatan, serta tumbuhnya potensi ekonomi lokal berbasis herbal. Desa Komplementer menjadi model inovatif yang dapat direplikasi di wilayah lain sebagai wujud dukungan terhadap SDGs 3 dan 11 serta penguatan peran perguruan tinggi dalam pengabdian masyarakat berkelanjutan.
Copyrights © 2025