Digitalisasi farmasi rumah sakit merupakan langkah krusial untuk meningkatkan kualitas layanan klinis, efisiensi operasional, dan peran apoteker yang berorientasi pada pasien. Kajian artikel ini bertujuan memetakan hambatan dan faktor pendorong implementasi serta interoperabilitas sistem digital seperti CPOE dan EMR, serta menganalisis peran kepemimpinan dan kebijakan institusional dalam strategi integrasi alur kerja digital. Metodologi yang digunakan adalah kajian sistematis dengan pencarian di platform Taylor & Francis Online pada periode 2021–2025, yang menghasilkan 40 artikel paling relevan setelah proses seleksi bertahap. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem digital telah terbukti mendukung fungsi kritis seperti pemantauan terapi obat dan dokumentasi intervensi klinis. Namun, tantangan utama meliputi interoperabilitas yang terbatas, kurangnya kebijakan pendukung, dan ketergantungan berkelanjutan pada proses manual untuk pengumpulan data. Di sisi lain, contoh keberhasilan seperti implementasi "Pharmacy Medication Access Referral order" melalui EMR menunjukkan potensi kolaborasi antaprofesi. Simpulan kajian menegaskan bahwa kepemimpinan farmasi dan kebijakan institusional yang menerapkan pendekatan seimbang antara arahan top-down dan inovasi kolaboratif, serta fokus pada standarisasi, otomatisasi data, dan penyediaan infrastruktur, sangat diperlukan untuk mencapai integrasi sistem yang menyeluruh dan mendukung transformasi layanan farmasi yang berpusat pada pasien.
Copyrights © 2026