Artikel ini mengkaji implementasi logistik farmasi berkelanjutan dalam kerangka Praktik Farmasi Hijau, dengan fokus pada integrasi kebijakan tingkat perusahaan ke praktik lokal dan identifikasi kesenjangan kompetensi di kalangan profesional farmasi. Kajian literatur sistematis terhadap 40 artikel dari Taylor & Francis Online (2021-2025) mengungkapkan bahwa inisiatif berkelanjutan seperti transportasi bebas fosil dan manajemen inventaris ramah lingkungan sering kali tidak terimplementasi optimal di tingkat apotek komunitas. Hambatan utama meliputi kesenjangan kesadaran apoteker terhadap kebijakan korporat, kurangnya pengetahuan spesifik, serta keterbatasan dukungan operasional. Lebih lanjut, kajian mendeteksi defisit kompetensi yang luas, termasuk dalam penerapan farmakogenetika, pemanfaatan panduan praktik profesional, adopsi teknologi kecerdasan buatan, komunikasi inklusif, dan pemahaman prinsip ekofarmakologi. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan belum terinternalisasi secara memadai dalam kompetensi klinis sehari-hari. Oleh karena itu, optimalisasi peran apoteker memerlukan model pendidikan dan pelatihan yang lebih terstruktur, peningkatan komunikasi dua arah, serta integrasi holistik aspek keberlanjutan ke dalam kurikulum dan pengembangan profesional berkelanjutan.
Copyrights © 2026