Manajemen mutu farmasi berfokus pada pencegahan masalah dan pemeliharaan kualitas yang konsisten selama proses desain dan kreasi, menjadikannya krusial bagi reputasi dan profitabilitas sektor manufaktur, dengan praktik Total Quality Management (TQM) yang sering diterapkan di industri ini. Bukti implementasi manajemen mutu dalam layanan kesehatan mencakup Sistem Manajemen Mutu Laboratorium (LQMS) untuk menjamin keakuratan hasil pengujian, dan model '6S' yang terbukti secara signifikan meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas instrumen bedah di pusat sterilisasi dan suplai (CSSD). Perkembangan saat ini mengarah pada Quality 5.0, yang memperluas kepuasan pelanggan menjadi kepuasan masyarakat (societal satisfaction), mengintegrasikan aspek keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Evolusi ini sejalan dengan adopsi teknologi Quality 4.0, di mana industri farmasi dinilai paling siap di Argentina dalam mengadopsi digitalisasi berbasis data seperti Big Data Analytics dan IoT untuk pengendalian kualitas real-time. Meskipun fondasi praktik sudah kokoh, penelitian mengidentifikasi dua kesenjangan utama: pertama, kesulitan dalam menerjemahkan konsep makro Kepuasan Masyarakat menjadi praktik operasional dan metrik terukur; dan kedua, hambatan implementasi Quality 4.0 yang berakar pada tantangan perilaku organisasi (misalnya, Kepemimpinan yang lemah dan resistensi terhadap perubahan) dan tata kelola TI (Keamanan siber). Penelitian ini mengidentifikasi kebutuhan mendesak untuk mengatasi tantangan struktural ini dan mengembangkan model kerangka kerja yang didorong oleh tujuan yang lebih tinggi (higher purpose) dan menerapkan perspektif sistem untuk mencapai integrasi penuh Quality 5.0 di seluruh siklus hidup nilai farmasi.
Copyrights © 2026