Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi cerita-cerita dari Ruang Peppermint sebagai alternatif bahan ajar teks rekon dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat pendidikan menengah. Cerita-cerita ini, yang diambil dari pengalaman nyata klien psikolog, membantu siswa memahami struktur teks rekon (orientasi, urutan peristiwa, resolusi), sekaligus menggali makna emosional dan refleksi personal. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini fokus pada tiga aspek utama: struktur teks rekon, relevansi emosional, dan kesesuaian dengan Kurikulum Merdeka. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerita seperti Tahan Banting, Malam Romantis, Seperti Kutu Lompat dalam Kotak Kecil, dan Dari Belakang Jendela memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam bagi siswa, terutama dalam aspek refleksi emosional dan sosial. Cerita-cerita ini membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta meningkatkan literasi emosional. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa cerita-cerita tersebut selaras dengan tujuan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pentingnya literasi kritis dan refleksi personal. Dengan mengintegrasikan cerita-cerita ini ke dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan kontekstual, menghubungkan pengalaman pribadi siswa dengan materi pelajaran. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis menulis siswa, tetapi juga memperkaya pemahaman mereka tentang peran refleksi emosional dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendukung perkembangan literasi yang lebih holistik.
Copyrights © 2025