Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi paradigma komunikasi orang tua dan anak dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai basis epistemologis utama, serta menganalisis implikasinya terhadap pengembangan Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient/EQ) dan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient/SQ). Urgensi penelitian ini didorong oleh fenomena disrupsi digital dan sekularisasi pendidikan keluarga yang mengikis dimensi transenden dalam pola asuh, menyebabkan krisis identitas dan fragilitas mental pada generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan tafsir maudhu’i (tematik). Sumber data primer meliputi Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir otoritatif seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Maraghi, serta literatur psikologi pendidikan kontemporer. Hasil penelitian menemukan bahwa Al-Qur’an menawarkan arsitektur komunikasi yang holistik melalui enam prinsip Qaulan: Qaulan Sadidan (kebenaran/integritas), Qaulan Balighan (efektivitas/impak), Qaulan Ma’rufan (kebaikan/normativitas), Qaulan Kariman (pemuliaan), Qaulan Layyinan (kelembutan), dan Qaulan Maysuran (kemudahan). Implementasi prinsip-prinsip ini, yang dikontekstualisasikan melalui model pengasuhan Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ya’qub a.s., dan Luqman Al-Hakim, terbukti secara teoretis mampu menstimulasi validasi emosi (EQ) dan kesadaran bertuhan (SQ) yang lebih fundamental dibandingkan paradigma humanis-sekuler. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi Qur’ani bukan sekadar transfer informasi, melainkan proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang membentuk resiliensi karakter anak
Copyrights © 2025