Nasi merupakan makanan pokok kaya karbohidrat, sering dikonsumsi di Indonesia, namun kadar glukosanya yang tinggi dapat mempengaruhi kesehatan. Kebiasaan masyarakat menyimpan dan memanaskan kembali nasi memunculkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap kadar glukosa. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan kadar glukosa pada nasi putih, merah, dan hitam pada penyimpanan di kulkas (1-4℃) dan suhu ruang (20-25℃) selama 1, 3, dan 6 jam, serta setelah pemanasan kembali (65℃ selama 15 menit). Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest only control. Sampel yang digunakan adalah nasi putih, nasi merah, dan nasi hitam. Nasi disimpan dalam dua kondisi suhu kulkas (1-4°C) dan suhu ruang (20-25°C), dengan variasi waktu penyimpanan 1 jam, 3 jam, dan 6 jam. Setelah penyimpanan, nasi dipanaskan kembali pada suhu 65°C selama 15 menit. Pengukuran kadar glukosa dilakukan menggunakan metode Luff-Schoorl. Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi putih dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 1 jam mempunyai kadar glukosa tertinggi, yaitu 8,0956%, dan terendah adalah nasi hitam dengan penyimpanan dalam kulkas selama 6 jam (3,8958%). Pada perlakuan pemanasan kembali, kadar glukosa tertinggi diperoleh dari nasi putih dengan penyimpanan pada suhu ruang selama 1 jam (8,2098%) dan terendah adalah nasi hitam dengan penyimpanan dalam kulkas selama 6 jam (4,0303%). Penyimpanan, waktu penyimpanan dan pemanasan memberikan pengaruh nyata terhadap perbedaan kadar glukosa dari nasi yang dicobakan. Hasil yang paling aman untuk penderita diabetes melitus adalah nasi hitam yang disimpan di kulkas selama 6 jam lalu dipanaskan kembali.
Copyrights © 2026