Penelitian ini mengkaji pola komunikasi interpersonal dan penyebab miskomunikasi antara pengemudi ojek online dan pelanggan di Banda Aceh. Menggunakan pendekatan kualitatif studi lapangan, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miskomunikasi umumnya dipicu oleh instruksi verbal yang tidak jelas, nada bicara yang dianggap tinggi, ekspresi wajah negatif, dan gesture yang menimbulkan salah tafsir. Terdapat tiga pola komunikasi dominan klarifikasi, dua arah, dan spiral yang berfungsi sebagai upaya untuk mengurangi ketidakpastian selama proses layanan. Miskomunikasi berdampak pada emosi pelanggan, penurunan rating, beralihnya pelanggan ke aplikasi lain, serta berkurangnya pendapatan pengemudi. Strategi yang digunakan untuk meminimalisir miskomunikasi meliputi klarifikasi, komunikasi melalui telepon, penyesuaian bahasa, dan tindakan kompensasi. Integrasi dengan Teori Pertukaran Sosial menunjukkan bahwa komunikasi positif menghasilkan nilai sosial yang meningkatkan persepsi layanan, sedangkan miskomunikasi menciptakan biaya sosial yang menurunkan kepuasan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang peran komunikasi interpersonal dalam membentuk pengalaman layanan transportasi daring.
Copyrights © 2026