Pada awal bulan Desember tahun 2025, Sumatra dilanda berbagai musibah bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor, dan gempa bumi. Bantuan kemanusiaan telah disalurkan kepada daerah terdampak. Namun pada momen yang sama, muncul fenomena Perfomative activism yang dilakukan oleh beberapa oknum penyalur bantuan. Performative activism yaitu perilaku saling membantu yang dipublikasikan ke media demi membangun citra dan pengakuan dari publik. Fenomena tersebut memiliki kesamaan dengan konsep riya dalam islam, yaitu melakukan suatu kebaikan untuk dilihat atau dipuji oleh manusia. Penelitian ini dilakukan untuk melakukan analis persamaan performative activism dalam konsep riya dalam islam dengan menyandingkan hadis hadis tentang riya pada konteks bantuan bencana di Sumatera. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan tematik.dengan menganslis hadis hadis tentang riya lalu menyimpulkan kesamaannya dan membandingkan dengan aksi perfomative activism. Penelitian ini menunjukkan bahwa hadis tentang riya’ memberikan panduan etis untuk memahami kecenderungan individu maupun institusi dalam menampilkan keterlibatan sosial secara berlebihan saat bencana. Fenomena ini tampak melalui praktik pencitraan, seperti unggahan media sosial, penggunaan simbol atau logo, dan strategi komunikasi publik yang lebih menekankan pengakuan sosial daripada kebermanfaatan bagi korban. Temuan ini menegaskan perlunya pengembalian fokus bantuan kepada nilai-nilai moral, dengan menempatkan penerima manfaat sebagai prioritas utama, agar aktivitas kemanusiaan tidak bergeser menjadi sekadar alat memperkuat citra.
Copyrights © 2025