Perkembangan teknologi digital telah membentuk cara generasi digital modern memahami diri, relasi sosial, dan makna hidup. Kehadiran media sosial, budaya konektivitas permanen, serta tuntutan performativitas identitas menghadirkan pengalaman subjektif yang kompleks, sering kali disertai kecemasan, kebingungan identitas, dan krisis makna. Artikel ini bertujuan mengkaji pengalaman subjektif generasi digital melalui integrasi pemikiran fenomenologi dan psikologi eksistensial. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk menggali struktur pengalaman hidup (lived experience) generasi digital dalam konteks keseharian digital, sementara psikologi eksistensial berfungsi menjelaskan dinamika makna, kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologis melalui wawancara mendalam terhadap individu generasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman digital tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga eksistensial, ditandai oleh pencarian autentisitas, negosiasi identitas, serta strategi pemaknaan diri di tengah tekanan sosial digital. Integrasi kedua pendekatan ini memberikan kerangka konseptual yang lebih utuh dalam memahami realitas psikologis generasi digital modern .
Copyrights © 2026