Era disrupsi membawa perubahan cepat dalam lanskap sosial, ekonomi dan teknologi yang menuntut penyuluhan sosial bertransformasi secara inovatif dan sistemik. Penyuluhan sosial memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas pilar-pilar sosial seperti TKSK, Pendamping PKH, PSM, Tagana, Karang Taruna dan relawan sosial lainnya untuk mengatasi kompleksitas permasalahan sosial di tingkat komunitas. Namun, pendekatan yang masih parsial dan sektoral terbukti kurang mampu menjawab tantangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode descriptive-analytical melalui studi literatur, telaah kebijakan dan analisis tematik terhadap studi kasus implementasi penyuluhan sosial di berbagai daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi penyuluhan sosial memerlukan integrasi antara komunikasi pembangunan, pemanfaatan teknologi digital, penguatan kapasitas SDM serta kolaborasi multi-aktor lintas sektor. Penerapan system thinking terbukti meningkatkan efektivitas penyampaian informasi, koordinasi antar-aktor serta kesinambungan program pemberdayaan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa transformasi penyuluhan sosial berbasis sistemik merupakan prasyarat penguatan pilar-pilar sosial di masa depan. Rekomendasi diarahkan pada penguatan regulasi, pengembangan model penyuluhan adaptif berbasis teknologi dan peningkatan kapasitas pilar-pilar sosial agar mampu menghadapi tantangan era disrupsi secara tangguh, inklusif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026