Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN KELOMPOK (Kasus Pemberdayaan Masyarakat Miskin melalui Pendekatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Joyakin Tampubolon; Basita Ginting Sugihen; Margono Samet; Djoko Susanto; Sumardjo Sumardjo
Jurnal Penyuluhan Vol. 2 No. 2 (2006): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.484 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v2i2.2122

Abstract

Department of Social affairs implemented several empowerment programs to eradicate poverty. KUBE was one of these poverty eradication programs. KUBE was infended to over-come the group weaknesses through mutual and cooperative efforts. In this relation there were some factors affecting the KUBE dynamic i.e., member characteristics, empowerment patterns, and the KUBE social environment. To optimize the KUBE empowerment, the KUBE productive business activities were classified into three categories, namely daily income, monthly income and annual income earning activities.
Transformasi Penyuluhan Sosial Berbasis Sistemik Untuk Penguatan Pilar-Pilar Sosial Di Era Disrupsi Tampubolon, Joyakin
Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/jppm.v5i1.1772

Abstract

Era disrupsi membawa perubahan cepat dalam lanskap sosial, ekonomi dan teknologi yang menuntut penyuluhan sosial bertransformasi secara inovatif dan sistemik. Penyuluhan sosial memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas pilar-pilar sosial seperti TKSK, Pendamping PKH, PSM, Tagana, Karang Taruna dan relawan sosial lainnya untuk mengatasi kompleksitas permasalahan sosial di tingkat komunitas. Namun, pendekatan yang masih parsial dan sektoral terbukti kurang mampu menjawab tantangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode descriptive-analytical melalui studi literatur, telaah kebijakan dan  analisis tematik terhadap studi kasus implementasi penyuluhan sosial di berbagai daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi penyuluhan sosial memerlukan integrasi antara komunikasi pembangunan, pemanfaatan teknologi digital, penguatan kapasitas SDM serta kolaborasi multi-aktor lintas sektor. Penerapan system thinking terbukti meningkatkan efektivitas penyampaian informasi, koordinasi antar-aktor serta kesinambungan program pemberdayaan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa transformasi penyuluhan sosial berbasis sistemik merupakan prasyarat penguatan pilar-pilar sosial di masa depan. Rekomendasi diarahkan pada penguatan regulasi, pengembangan model penyuluhan adaptif berbasis teknologi dan  peningkatan kapasitas pilar-pilar sosial agar mampu menghadapi tantangan era disrupsi secara tangguh, inklusif dan  berkelanjutan.