Industri penerbangan merupakan salah satu sektor transportasi yang memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan perekonomian suatu negara. PT Garuda Indonesia dan PT Citilink Indonesia adalah dua perusahaan penerbangan di Indonesia yang menawarkan beragam layanan penerbangan dengan segmentasi pasar yang berbeda. Penurunan jumlah penumpang selama pandemi pada tahun 2020 dan 2021 menyebabkan kedua maskapai ini mengalami penurunan pendapatan dan laba yang signifikan pada periode tersebut, yang berdampak pada kemampuan kedua maskapai ini untuk memenuhi kewajiban keuangan dan mempertahankan kinerja keuangannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis rasio keuangan PT Garuda Indonesia dan PT Citilink Indonesia dengan menggunakan analisis rasio keuangan, meliputi rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas, dengan data yang diambil dari laporan keuangan periode 2020-2024. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan fokus pada perhitungan rasio keuangan untuk menentukan kinerja masing-masing maskapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Citilink cenderung memiliki tingkat likuiditas yang lebih stabil dibandingkan Garuda Indonesia, yang masih menghadapi tekanan keuangan dan beban utang yang tinggi. Dari sisi solvabilitas, Garuda Indonesia menunjukkan rasio yang lebih tinggi, mengindikasikan tingkat risiko keuangan yang lebih besar. Pada rasio profitabilitas, Citilink menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik, sejalan dengan model bisnis berbiaya rendah yang lebih efisien. Namun, dari rasio aktivitas, kedua perusahaan menunjukkan efektivitas operasi yang masih perlu ditingkatkan, terutama dalam pemanfaatan aset dan pengendalian biaya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran komparatif mengenai kinerja keuangan kedua maskapai serta menjadi bahan pertimbangan bagi manajemen, investor, dan pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan strategis.
Copyrights © 2026