Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tata kelola pariwisata di Kota Gorontalo dengan fokus pada dua objek wisata, yaitu Benteng Otanaha dan Tamendao Beach. Kedua destinasi ini dipilih sebagai representasi wisata budaya-sejarah dan wisata alam yang memiliki potensi besar namun masih menghadapi berbagai tantangan pengelolaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pemerintah, pengelola wisata, serta masyarakat lokal. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori governance Pierre & Peters (2020), yang mencakup lima indikator utama: networked governance, kolaborasi, ko-governance, konflik dan negosiasi, serta multi-level governance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola pariwisata di Kota Gorontalo belum berjalan optimal. Pada aspek networked governance, kerja sama antaraktor masih lemah dan belum terstruktur. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha belum terbentuk secara strategis karena belum adanya kesepakatan peran yang jelas. Ko-governance menunjukkan bahwa pemerintah masih dominan, sementara peran masyarakat belum seimbang. Pada aspek konflik dan negosiasi, ditemukan perbedaan kepentingan terutama terkait lahan dan pengembangan fasilitas wisata. Sementara itu, multi-level governance belum berjalan terpadu karena kurangnya sinkronisasi antara pemerintah kota, provinsi, dan pihak pengelola. Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan koordinasi, peningkatan kapasitas SDM pariwisata, perbaikan infrastruktur, serta model tata kelola partisipatif untuk mewujudkan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan di Kota Gorontalo.
Copyrights © 2026