Perkembangan wacana epistemologi modern menuntut pemetaan ulang prinsip metodologis yang mendasari pencarian kebenaran, baik dalam tradisi ilmu Barat maupun Islam. Perbedaan sumber, orientasi, dan batas validitas pengetahuan menimbulkan kebutuhan akan analisis komparatif dan integratif terhadap berbagai pendekatan epistemologis yang berkembang. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konseptual antara prinsip verifikasi yang dikemukakan A.J. Ayer, falsifikasi Karl Popper, serta kerangka epistemologi bayani, burhani, dan irfani dalam tradisi keilmuan Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang bersumber dari artikel jurnal nasional dan internasional, buku filsafat ilmu, literatur klasik keislaman, serta publikasi akademik yang relevan dalam rentang tahun 2015–2025. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi dengan menelusuri basis data ilmiah dan sumber pustaka tematik yang berkaitan dengan filsafat ilmu dan epistemologi Islam. Analisis data dilakukan melalui analisis isi dan analisis tematik yang mencakup proses reduksi data, kategorisasi konsep, sintesis argumentatif, serta interpretasi epistemologis secara komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip verifikasi dan falsifikasi memberikan fondasi empiris-rasional yang kuat bagi pengembangan sains modern, terutama dalam menegaskan keterujian dan sikap kritis terhadap teori ilmiah. Namun, kedua pendekatan tersebut memiliki keterbatasan karena belum mampu menjangkau dimensi normatif dan spiritual pengetahuan. Sebaliknya, epistemologi bayani, burhani, dan irfani menawarkan struktur metodologis yang lebih holistik dengan memadukan otoritas teks, rasionalitas demonstratif, dan pengalaman spiritual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi dialogis antara kelima pendekatan tersebut berpotensi memperkaya khazanah filsafat ilmu kontemporer serta membuka ruang bagi pengembangan metodologi keilmuan yang lebih komprehensif, seimbang dan bernilai etis.
Copyrights © 2026