Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Try-On (VTO) dalam membentuk persepsi konsumen pada industri kosmetik di Bali. Latar belakang penelitian adalah pesatnya transformasi digital industri kosmetik global, di mana merek-merek besar seperti L'Oréal dan Maybelline telah sukses mengimplementasikan AR/VTO untuk meningkatkan pengalaman berbelanja. Di Bali, meskipun tingkat literasi digital masyarakat tinggi (87,15%), terdapat kesenjangan signifikan antara kesiapan konsumen dengan kemampuan adopsi teknologi imersif oleh UMKM kosmetik lokal yang masih bergantung pada pemasaran konvensional. Mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menggali makna dan pengalaman subjektif secara mendalam. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan yang terdiri dari konsumen (pengguna dan non-pengguna AR/VTO), produsen (pengguna dan non-pengguna teknologi), beauty influencer, serta seorang pengamat ekonomi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, dengan keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AR/VTO berperan krusial dalam meningkatkan kepercayaan konsumen (brand trust), mengurangi ketidakpastian produk, dan menciptakan pengalaman belanja yang personal, interaktif, dan menyenangkan (hedonic motivation). Namun, UMKM lokal dihadapkan pada tantangan berupa keterbatasan modal, literasi digital, dan akses terhadap teknologi. Penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi pelaku UMKM untuk mempertimbangkan adopsi AR/VTO guna meningkatkan daya saing, serta memberikan kontribusi teoretis pada kajian pemasaran digital dan perilaku konsumen.
Copyrights © 2026