Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kebisingan terhadap pelaksanaan terapi seni di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental yang melibatkan kelompok kontrol non-setara. Sebanyak sepuluh siswa SMA menjadi subjek penelitian ini dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol menjalani kegiatan terapi seni dalam suasana yang tenang, sementara kelompok eksperimen melaksanakan terapi seni dengan adanya kebisingan yang berfungsi sebagai stimulus lingkungan. Pengukuran regulasi emosi siswa dilakukan menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan teori Thompson, yang diberikan sebelum perlakuan (pretest) dan setelah perlakuan (posttest). Ketidakmampuan dalam meregulasi emosi dapat berdampak pada berbagai permasalahan psikologis, seperti stres, kecemasan, perilaku impulsif, serta kesulitan penyesuaian diri di lingkungan sekolah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji t sampel berpasangan melalui perangkat lunak SPSS. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest baik di kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Namun, pengamatan selama pelaksanaan terapi seni mengindikasikan adanya perubahan perilaku dan respons emosional pada kelompok eksperimen, seperti penurunan konsentrasi, peningkatan kecemasan, serta ketidaknyamanan emosional akibat adanya kebisingan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa meski kebisingan tidak menunjukkan pengaruh signifikan dari segi kuantitatif terhadap terapi seni di kalangan siswa SMA, namun tetap memiliki dampak kualitatif dalam proses regulasi emosi selama kegiatan berlangsung.
Copyrights © 2026