Perfectionisme kerap dipersepsikan sebagai sikap positif karena identik dengan standar tinggi dan dorongan untuk mencapai hasil terbaik. Namun, dalam praktiknya, tuntutan untuk selalu sempurna justru sering menjadi sumber kelelahan mental, kecemasan, dan penurunan produktivitas. Artikel ini membahas fenomena perfectionism dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagaimana standar kesempurnaan yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, proses belajar, serta kinerja individu. Melalui pendekatan reflektif dan deskriptif, tulisan ini menyoroti pergeseran sudut pandang dari mengejar kesempurnaan menuju penerimaan diri dan proses yang realistis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa melepaskan perfectionism bukan berarti menurunkan kualitas diri, melainkan membangun keseimbangan antara usaha, batas kemampuan, dan kesehatan mental. Dengan demikian, individu diharapkan mampu menjalani aktivitas secara lebih sehat, produktif, dan bermakna tanpa terbebani oleh tuntutan untuk selalu sempurna.
Copyrights © 2023