Visi Indonesia Emas 2045 menghadapi tantangan serius berupa krisis moral dan degradasi karakter, seperti maraknya perundungan, intoleransi, dan kekerasan di kalangan pelajar. Fenomena ini mengindikasikan bahwa pendidikan karakter selama ini cenderung terjebak pada tataran kognitif moral knowing dan belum menyentuh aspek habituasi moral doing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan peran PAI dalam menginternalisasi nilai-nilai karakter religius, khususnya cinta damai, toleransi, dan anti-kekerasan melalui pendekatan etika kebajikan guna membentuk generasi yang unggul dan beradab. Penelitian ini dikaji secara kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri dan mendokumentasikan artikel ilmiah bereputasi dengan rentang publikasi tahun 2020-2025. Teknik analisis data menggunakan content analysis yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAI efektif mentransformasi pengetahuan agama menjadi watak melalui mekanisme habituasi, keteladanan guru, dan integrasi budaya sekolah. Secara spesifik ditemukan bahwa: 1) Karakter cinta damai diinternalisasi melalui praktik empati dan kolaborasi; 2) Toleransi dibangun melalui pergeseran dari sikap eksklusif ke inklusif lewat interaksi sosial aktif; dan 3) Ekosistem anti-kekerasan dibentuk melalui sinergi landasan teologis dengan kebijakan sekolah yang kondusif (model "Sinergi Teologis-Kultural"). Penelitian ini menyimpulkan bahwa PAI berfungsi strategis sebagai inkubator kesalehan sosial yang menjadi prasyarat kompetensi SDM Indonesia Emas 2045.
Copyrights © 2025