Abstrak Faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi, gangguan regulasi glukosa, dan dislipidemia berperan penting dalam terjadinya sindrom koroner akut pada lansia. Namun, bukti terkait retensi peserta dan gambaran risiko kardiovaskular awal dalam program pencegahan berbasis komunitas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi retensi peserta serta mendeskripsikan risiko kardiovaskular awal pada lansia yang mengikuti program berbasis komunitas SEIRAMA PADAMU. Evaluasi proses kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental one-group time series dilakukan di lingkungan komunitas. Penelitian melibatkan 50 lansia yang terdaftar di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia di Sidoarjo, Indonesia, dengan teknik total sampling. Retensi peserta dipantau melalui empat kali pengukuran bulanan berturut-turut. Indikator risiko kardiovaskular yang dinilai meliputi tekanan darah sistolik, kadar glukosa darah, dan trigliserida, yang diklasifikasikan berdasarkan ambang batas internasional. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menilai pola retensi dan distribusi risiko awal. Hasil menunjukkan retensi peserta yang tinggi (>90%) pada seluruh periode tindak lanjut dengan kehilangan peserta yang minimal. Sebagian besar lansia memiliki kompleksitas klinis rendah, namun proporsi yang signifikan termasuk dalam kategori risiko kardiovaskular meningkat atau borderline, khususnya pada tekanan darah, glukosa, dan trigliserida. Mayoritas peserta memiliki setidaknya satu faktor risiko kardiovaskular pada baseline. Program SEIRAMA PADAMU menunjukkan kelayakan dan penerimaan yang baik, sekaligus menegaskan pentingnya deteksi dini dan pemantauan berkelanjutan dalam pencegahan kardiovaskular berbasis komunitas. Kata Kunci: Risiko Kardiovaskular, Sindrom Koroner Akut, Lansia, Program Berbasis Komunitas
Copyrights © 2025