Sebagai negara dengan hutan mangrove terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan hayati berupa kepiting soka yang memiliki potensi ekonomi tinggi. Indonesia juga merupakan negara eksportir krustasea laut tersebut. Namun, pada tahun 2021 nilai ekspor kepiting hanya mencapai 614,25 juta USD. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor alami dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, diperlukan pemanfaatan teknologi precision aquaculture yang dapat meningkatkan efisiensi budidaya melalui pemantauan kualitas air dengan memanfaatkan sensor, seperti sensor TDS (DS18B20), pH (SEN0161), dan temperatur (DS18B20), untuk mengetahui kondisi air pada media budidaya kepiting. Selain itu, digunakan juga aplikasi Firebase untuk mendukung sistem Internet of Things (IoT). Kepiting soka sendiri memiliki kebutuhan spesifik, yaitu temperatur 22–25°C, pH 7,5–7,7, dan salinitas 10–25 ppt. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sensor temperatur air mencatat 24,7°C dengan akurasi 98,33%, sensor pH mencatat 9,15 dengan akurasi 99,66%, dan sensor salinitas mencatat 2,83 ppt dengan akurasi 89,27%. Selisih nilai antara sensor dan alat ukur standar adalah 0,43 untuk temperatur, 0,04 untuk pH, dan 0,37 untuk salinitas. Informasi nilai-nilai tersebut ditampilkan pada LCD 16x2 dan Realtime Database Firebase.
Copyrights © 2025