Ritual bapidara adalah pengobatan tradisionaldi kelurahan Pahandut yang digunakan sebagai media penyembuhan dari penyakit baik fisik maupun psikis. Dalam ritual ini dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan alat yang juga ada disekitar lingkungan kemudian dibacakan ayat-ayat al-Qur’an. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana ritual bapidara digunakan oleh orang-orang Banjar di kelurahan Pahandut sebagai komunikasi simbolik antar mereka, kemudian bagaimana ritual bapidara sebagai manifestasi budaya dalam rangka ketahanan sosial komunitas mereka serta bagaimana analisis pemaknaan ritual bapidara dengan menggunakan teori keseimbangan dan ketidaksesuaian dari Leon Festinger. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode kajian etnografi dengan pendekatan kualitatif deskriptif menggunakan studi lapangan dengan 5 orang pamidara atau patamba yang berusia 35-70 tahun dan 5 orang bapidara yang berusia 30-70 tahun baik laki-laki dan perempuan yang merupakan masyarakat di kelurahan Pahandut. Lokasi penelitian di kelurahan Pahandut kecamatan Pahandut kota Palangka Raya provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi ritual bapidara dengan teori keseimbangan dan ketidaksesuaian dalam masyarakat terdapat hasil bahwa budaya lokal ritual bapidara memiliki aturan dan tata cara tersendiri dalam mamidarai (mengobati) orang yang sakit. Keyakinan pengguna bapidara dalam melaksanakan bapidara ini pada intinya yaitu yakin dengan Allah SWT karena hanya Allah yang mampu menyembuhkan dan sebagai pamidara atau patamba yang berfungsi sebagai perantara serta tetap mengikuti syariat Islam. Dengan demikian maka ritual bapidara dianggap penting dalam kehidupan masyarakat.
Copyrights © 2025