Penelitian ini berangkat dari masalah munculnya kontroversi publik terhadap penayangan segmen pondok pesantren dalam Xpose Uncensored di Trans7. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi bentuk gaya bahasa sindiran yang digunakan narator serta menganalisis respon warganet terhadap tayangan tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksploratif melalui analisis konten dan komentar warganet di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ironi, sarkasme, satire, dan sinisme menjadi gaya bahasa dominan yang memengaruhi cara warganet menafsirkan tayangan, sehingga memunculkan respons beragam seperti dukungan, kritik tajam, hingga pembelaan terhadap pesantren. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya kehati-hatian media dalam memilih diksi dan perlunya literasi digital masyarakat agar dapat merespons konten secara kritis dan proporsional.
Copyrights © 2025