Festival Tabuik Kota Pariaman merupakan tradisi budaya tahunan yang memiliki nilai sejarah, religi, dan sosial yang kuat serta berpotensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Namun, penurunan jumlah pengunjung pascapandemi COVID-19 dan belum optimalnya identitas visual festival menjadi tantangan dalam memperkuat citra serta menjangkau audiens yang lebih luas, khususnya generasi muda. Permasalahan utama yang dihadapi adalah belum adanya identitas visual yang terstruktur, konsisten, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan publik. Oleh karena itu, perancangan maskot dipilih sebagai solusi visual untuk menjadi representasi festival yang komunikatif, humanis, dan mudah dikenali. Metode perancangan yang digunakan meliputi riset kualitatif melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan kuesioner, yang kemudian diterjemahkan ke dalam konsep visual dan karakter maskot. Hasil perancangan diharapkan mampu memperkuat identitas visual Festival Tabuik, meningkatkan awareness masyarakat, serta mendukung strategi promosi festival secara lebih efektif dan relevan.
Copyrights © 2026