Transformasi digital dalam pendidikan tinggi telah mengintroduksi sistem manajemen dan evaluasi berbasis algoritma yang menjanjikan objektivitas dan efisiensi, namun juga menyimpan dimensi kekuasaan yang tersembunyi. Penelitian ini menganalisis penerapan sistem algoritmik Lecturer Performance Management System (LPMS) di FKIP Universitas Khairun melalui lensa teori Foucault tentang kuasa/pengetahuan, disiplin, dan panoptikon. Dengan metode etnografi kritis yang melibatkan 25 partisipan (dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, dan pengembang sistem), penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan mekanisme operasional sistem algoritmik, (2) menganalisisnya sebagai teknologi kekuasaan dan pembentuk subjektivitas, serta (3) mengkritisi implikasi terhadap otonomi akademik dan keadilan. Hasil penelitian mengungkap bahwa LPMS berfungsi sebagai panoptikon digital yang memproduksi disiplin melalui pemeriksaan berkelanjutan, mendorong pengawasan diri (self-surveillance), dan membentuk subjektivitas “dosen algoritmik” yang terinternalisasi logika kuantitatif sistem. Klaim objektivitas algoritma ternyata bersifat semu dan berpotensi mereproduksi bias serta meminggirkan pengetahuan lokal. Studi ini menyimpulkan bahwa sistem algoritmik bukan sekadar alat netral, melainkan instrumen kekuasaan yang mengubah praktik akademik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan tata kelola yang lebih reflektif, partisipatif, dan kontekstual untuk menjaga martabat serta otonomi akademi
Copyrights © 2025