Penelitian ini mengkaji teologi Rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:10-16 tentang perceraian dan relevansinya bagipasangan muda Kristen masa kini. Menggunakan metode eksegesis biblika dengan pendekatan historis-gramatikal, penelitian ini menganalisis konteks jemaat Korintus, istilah-istilah kunci Yunani seperti ??????(chorizo), ?????? (apolyo), dan ?????????? (dedoulotai), serta membandingkannya dengan ajaran PerjanjianLama dan Injil Sinoptik. Temuan menunjukkan bahwa teologi Paulus berlandaskan pada tiga pilar: kekudusanpernikahan sebagai perintah Tuhan (ay. 10-11), fleksibilitas pastoral melalui "Pauline Privilege" dalampernikahan campuran (ay. 12-16), dan panggilan kepada damai sejahtera. Data empiris mengungkapkan 31,85% pasangan Kristen di Indonesia bercerai pada tahun 2024, dengan religiusitas rendah sebagai faktor signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Paulus menawarkan keseimbangan antara ideal teologis tentang kekekalanpernikahan dan realitas pastoral yang kompleks. Bagi pasangan muda Kristen, pernikahan bukan sekadar kontraksosial tetapi panggilan rohani yang memerlukan komitmen, kasih, pengampunan, dan ketekunan dalam doa, sambil mengakui bahwa dalam situasi ekstrem seperti kekerasan atau pengabaian iman, gereja dipanggil menilaidengan bijaksana demi kesejahteraan rohani dan mental jemaat.
Copyrights © 2025