The rapid development of digital technology has brought significant changes to the workplace, especially for Generation Z employees. Despite the benefits, the high intensity of digital technology use has the potential to cause psychological stress that can affect employees' digital well-being. One way employees cope with this is through cyberloafing, the use of the internet at work for personal purposes. This study aims to determine the relationship between cyberloafing and digital well-being among Generation Z employees. This study used a non-experimental quantitative method with a correlational approach. The study participants consisted of 213 active Generation Z employees with at least one year of work experience who cyberloafed for a maximum duration of 75 minutes per day. The measurement instruments used were the Cyberloafing Scale and the Digital Well-being Scale, adapted into Indonesian. The results showed a significant positive relationship between cyberloafing and digital well-being (r = 0.286; p < 0.001). Therefore, it can be said that cyberloafing, when done within reasonable limits, can serve as a coping mechanism to reduce work stress arising from the high intensity of digital technology use in the workplace. However, excessive cyberloafing can negatively impact physical health and work productivity. Therefore, it is important for organizations to create a work environment with a balanced use of digital technology. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa perubahan signifikan dalam dunia kerja, terutama bagi karyawan Generasi Z. Terlepas dari manfaat yang bisa didapatkan, tingginya intensitas penggunaan teknologi digital berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi tingkat digital well-being karyawan. Salah satu cara yang dilakukan karyawan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cyberloafing, penggunaan internet di tempat kerja untuk kepentingan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberloafing dan digital well-being pada karyawan Generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan korelasional. Partisipan penelitian ini terdiri dari 213 karyawan Generasi Z yang aktif bekerja dengan pengalaman bekerja minimal selama 1 tahun, serta melakukan cyberloafing dengan durasi maksimal 75 menit per hari. Alat ukur yang digunakan adalah Cyberloafing Scale dan Digital Well-being Scale yang telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara cyberloafing dan digital well-being (r = 0,286; p < 0,001). Maka dapat dikatakan bahwa cyberloafing yang dilakukan dalam batas wajar dapat berfungsi sebagai mekanisme coping untuk mengurangi stres kerja yang muncul akibat tingginya intensitas penggunaan teknologi digital di lingkungan kerja. Namun, cyberloafing yang dilakukan secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja dengan penggunaan teknologi digital yang seimbang.
Copyrights © 2026