Energi panas bumi merupakan sumber energi terbarukan dengan potensi signifikan untuk mendukung upaya pengurangan emisi dan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih. Setiap tahapan pengembangannya, mulai dari eksplorasi hingga penutupan, masih memiliki dampak lingkungan yang memerlukan pemahaman yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara Biaya Siklus Hidup (Life Cycle Cost/LCC) dan dampak lingkungan berdasarkan ringkasan berbagai literatur tentang pembangkit listrik tenaga panas bumi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif-komparatif melalui telaah artikel yang diterbitkan antara tahun 2000 dan 2025 dari beberapa basis data, seperti Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase pengeboran dan konstruksi tetap menjadi komponen biaya terbesar, masing-masing sekitar 20–30% dan 50–60% dari total biaya siklus hidup. Sementara itu, fase operasi merupakan penyumbang emisi utama, yaitu sekitar 41,94 g CO2-eq/kWh atau 96,9% dari total emisi. Temuan ini menunjukkan bahwa investasi substansial pada tahap awal berperan penting dalam mengurangi dampak lingkungan pada fase operasi melalui peningkatan efisiensi teknologi dan pengelolaan fluida. Oleh karena itu, integrasi antara penilaian LCA dan LCC penting untuk mendukung perencanaan proyek panas bumi yang lebih berkelanjutan, baik dari perspektif ekonomi maupun lingkungan.
Copyrights © 2025