Pertumbuhan penduduk meningkatkan kebutuhan akan bahan bakar. Hal ini berbanding terbalik dengan penurunan ketersediaan bahan bakar fosil. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia bertujuan untuk meningkatkan bauran sumber energi terbarukan. Salah satu kemungkinannya adalah memanfaatkan limbah kulit singkong untuk diolah menjadi bioetanol. Salah satu langkah terpenting terfokus pada proses hidrolisis dan fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu hidrolisis dan waktu fermentasi terhadap hasil kadar etanol dengan melakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Penelitian ini menggunakan variasi suhu hidrolisis dan waktu fermentasi dengan variasi suhu 90°C, 95°C, 100°C dan waktu fermentasi selama 3 hari, 5 hari dan 7 hari dengan melakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Dari hasil penelitian hidrolisis dengan kadar gula reduksi tertinggi diperoleh pada sampel suhu 100°C mendapatkan nilai rata-rata kadar brix sebesar 31°Brix. Sedangkan kadar etanol tertinggi diperoleh pada suhu 100°C dengan waktu 7 hari pengulangan ke 3 memperoleh nilai sebesar 58% kadar etanol. Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan suhu hidrolisis dapat menaikan kadar gula reduksi karena mempercepat laju reaksi hidrolisis. Selain itu juga dapat membantu penguraian lignoselulosa karena lebih mudah terpapar enzim dan pengaruh dari waktu fermentasi semakin lama waktu fermentasi yang digunakan semakin tinggi pula kadar etanolnya karena ragi memiliki waktu lebih banyak untuk mengubah gula (glukosa, fruktosa) hasil hidrolisis kulit singkong menjadi etanol dan CO?.
Copyrights © 2025