Revolusi Industri 4.0 menuntut satuan pendidikan vokasi, seperti SMKN 1 Kongbeng, untuk mentransformasi kurikulum, pembelajaran, dan kemitraan industri agar lulusannya berdaya saing. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan, seperti kesenjangan kompetensi, integrasi teknologi yang terbatas, kemitraan industri yang belum optimal, dan budaya inovasi guru yang belum merata. Metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus digunakan, dengan pengumpulan data melalui observasi dan studi dokumentasi terkait kurikulum, infrastruktur, dan studi tracer. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesenjangan kompetensi di bidang IoT, otomasi, komputasi awan, dan literasi digital masih signifikan. Kemitraan industri memang ada, tetapi belum sepenuhnya mendukung transfer teknologi 4.0. Variabilitas kapasitas guru dan inovasi pembelajaran juga menjadi kendala akibat terbatasnya fasilitas dan dukungan kelembagaan. Namun, potensi lokal di sektor perkebunan, alat berat, dan otomotif menawarkan peluang diferensiasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi inovatif perlu berfokus pada penguatan kurikulum 4.0 berbasis teknologi, optimalisasi kemitraan industri melalui kokreasi, peningkatan kapasitas guru, dan pengembangan diferensiasi berbasis potensi lokal. Dengan langkah-langkah tersebut, SMKN 1 Kongbeng dapat membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di era Revolusi Industri 4.0.
Copyrights © 2026