This study aims to analyze the adoption and diffusion dynamics of the Academic Ability Test (TKA) policy mandated by Permendikdasmen Number 9 of 2025 at SMAN 2 Tambun Utara. This research is urgent considering the transition from conventional evaluation to digital-based assessment with high-stakes testing often faces technical and psychological barriers. Using a descriptive quantitative approach within Everett M. Rogers' Diffusion of Innovation framework, the study highlights three main attributes: Relative Advantage, Compatibility, and Complexity. Data were collected through surveys of the 12th-grade student population (N=276) and teachers/technical teams (N=11). Findings reveal an adoption paradox: (1) High value acceptance (Relative Advantage), where 81.8% of students view TKA as a strategic opportunity for university admission; (2) Critical infrastructure gap (Compatibility), with 63.6% of teachers stating school hardware unreadiness and 39.4% of students having unsupported personal devices; (3) Procedural complexity, where 54.5% of teachers feel significantly increased administrative burden. The study concludes that SMAN 2 Tambun Utara possesses human resource readiness (brainware) but suffers from an infrastructure deficit (hardware), potentially triggering academic anxiety. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika adopsi dan difusi inovasi kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diamanatkan oleh Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025 di SMAN 2 Tambun Utara. Penelitian ini urgen dilakukan mengingat transisi dari evaluasi konvensional menuju asesmen berbasis digital dengan konsekuensi tinggi (high-stakes testing) seringkali menghadapi hambatan teknis dan psikologis. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan kerangka teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers, penelitian menyoroti tiga atribut utama: Relative Advantage, Compatibility, dan Complexity. Data dikumpulkan melalui survei terhadap populasi siswa kelas XII (N=276) dan guru/tim teknis (N=11). Temuan menunjukkan paradoks adopsi: (1) Tingkat penerimaan nilai (Relative Advantage) sangat tinggi, di mana 81,8% siswa memandang TKA sebagai peluang strategis masuk PTN; (2) Kesenjangan infrastruktur (Compatibility) yang kritis, dengan 63,6% guru menyatakan ketidaksiapan perangkat keras sekolah dan 39,4% siswa memiliki perangkat pribadi yang tidak mendukung; (3) Kompleksitas prosedur (Complexity) yang membebani, di mana 54,5% guru merasa beban administrasi meningkat signifikan. Penelitian menyimpulkan bahwa SMAN 2 Tambun Utara memiliki kesiapan SDM (brainware) namun mengalami defisit kesiapan infrastruktur (hardware), yang berpotensi memicu kecemasan akademik.
Copyrights © 2026