Penelitian ini mengkaji pidato Soekarno pada Konferensi Asia-Afrika 1955 dengan menggunakan perspektif hermeneutika Wilhelm Dilthey, yang menekankan pemahaman subjektif dan historis terhadap teks. Hermeneutika Dilthey terdiri dari tiga elemen utama, yaitu penghayatan (erleben), ungkapan (ausdruck), dan pemahaman (verstehen). Penelitian ini menunjukkan bahwa pidato Soekarno mencerminkan pengalaman sejarah kolonialisme yang dirasakan oleh negara-negara Asia-Afrika, yang diwujudkan dalam bentuk Dasasila Bandung sebagai ungkapan kolektif. Pemahaman terhadap pidato ini menyoroti pentingnya solidaritas transnasional dalam menanggapi kolonialisme modern dan membangun kerja sama global. Dengan demikian, pendekatan hermeneutika Dilthey memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana sejarah dan pengalaman kolektif membentuk solidaritas internasional yang berdampak pada hubungan global hingga saat ini.
Copyrights © 2025