Stigma negatif sangat melekat bagi laki-laki yang terlibat dalam perawatan kesehatan maternal dan neonatal. Hal tersebut menimbulkan dampak abai serta tidak percaya diri dalam mendampingi pasangannya pada masa perinatal. Selama ini, kader yang terpilih adalah seorang perempuan, padahal laki-laki pun juga memiliki peran yang penting jika terpilih sebagai kader. Mereka mampu memberikan dukungan sosial serta ruang belajar di masa perinatal bagi sesama ayah. Dengan demikian, kami mengembangkan inovasi sosial dengan mengikutsertakan laki-laki sebagai kader dalam program ‘Papa Mama Berdaya’, dan memberikan penguatan pengetahuan implementasi buku KIA. Desain yang digunakan adalah repeated measured dengan tiga pengukuran (pretest, posttest 1 setelah pelatihan konsep, dan posttest 2 setelah pelatihan praktis) pada 15 ayah yang dibentuk sebagai ‘male cadre’. Pengetahuan meningkat secara signifikan terjadi pada sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan praktis selama 2 kali, dengan peningkatan pada pretest vs posttest 1, posttest 1 vs possttest 2, dan pretest vs posttest 2 sebesar (36,06%; 11,44%; dan 51,64%). Penguatan peran dan wawasan kewaspadaan yang tepat untuk ‘male cadre’, sangat dibutuhkan dalam peningkatan pengetahuan mereka.
Copyrights © 2025