Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk (1) mengetahui kemampuan berpikir kritis matematis siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik di kelas X-D SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model Resource Based Learning, (2) mengetahui kesulitan yang dialami siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik di kelas X-D SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan dalam mengerjakan tes kemampuan berpikir kritis. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/i kelas X-D SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. Pemilihan subjek dalam penelitian ini berdasarkan teknik purposive sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket gaya belajar, tes kemampuan berpikir kritis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis matematis siswa adalah 77,82 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 61,35%. Siswa dengan gaya belajar visual memiliki rata-rata nilai tertinggi yaitu 80,69, diikuti oleh siswa kinestetik dengan nilai 77,41, dan siswa auditori dengan nilai 74,07. Persentase pencapaian pada setiap indikator berpikir kritis untuk siswa visual adalah 95,56% pada indikator klarifikasi, 86,11% pada indikator asessmen, 74,44% pada indikator strategi, dan 66,67% pada indikator penyimpulan. Siswa auditori memperoleh 92,59% pada indikator klarifikasi, 83,33% pada indikator asessmen, 64,81% pada indikator strategi, dan 55,55% pada indikator penyimpulan. Siswa kinestetik mencapai 94,81% pada indikator klarifikasi, 83,70% pada indikator asessmen, 70,37% pada indikator strategi, dan 60,74% pada indikator penyimpulan. (2) Kesulitan berpikir kritis matematis siswa kelas X-D SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan, terlihat berbeda berdasarkan gaya belajar yang dimiliki. Siswa visual menghadapi kesulitan terbesar pada indikator asesmen sebesar 37% dan paling rendah pada indikator strategi sebesar 13%, ditandai oleh kesulitan menjelaskan alasan pemilihan rumus dan merencanakan langkah penyelesaian. Siswa auditori mengalami kesulitan tertinggi pada indikator klarifikasi sebesar 37% dan terendah pada indikator asesmen sebesar 17%, dengan hambatan dalam memahami informasi soal dan menjelaskan langkah penyelesaian. Siswa kinestetik menunjukkan kesulitan yang relatif seimbang pada indikator asesmen sebesar 33%, indikator strategi sebesar 33%, dan indikator penyimpulan sebesar 34%, sementara indikator klarifikasi tidak menimbulkan kesulitan. Temuan ini menegaskan bahwa pola kesulitan berpikir kritis dipengaruhi oleh gaya belajar, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan matematis siswa secara optimal.
Copyrights © 2026