Meningkatnya intoleransi, polarisasi agama, dan disintegrasi sosial di Indonesia menuntut rekonstruksi paradigma pendidikan Islam agar mampu menghasilkan generasi yang moderat, inklusif, dan cinta damai. Pendidikan Islam moderat, yang berakar pada nilai tawaṣṣuṭ (moderat), tawāzun (keseimbangan), tasāmuḥ (toleransi), dan i‘tidāl (keadilan), dipandang sebagai strategi penting dalam membangun harmoni sosial di masyarakat multikultural. Artikel ini menelaah pendidikan Islam moderat sebagai strategi membangun toleransi dan harmoni sosial melalui pendekatan filosofis, pedagogis, dan sosiologis. Secara filosofis, pendidikan Islam moderat berpijak pada konsep Islam raḥmatan lil-‘ālamīn yang menempatkan kemanusiaan sebagai dasar etika keagamaan. Secara pedagogis, pendidikan Islam moderat membentuk karakter toleran melalui pendidikan dialogis, humanis, dan kontekstual, sebagaimana praktik pendidikan Islam Nusantara di pesantren. Secara sosiologis, pendidikan Islam moderat memperkuat kohesi sosial dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila. Kajian ini menegaskan bahwa Islam Nusantara dapat menjadi model praksis pendidikan Islam moderat yang efektif untuk memperkuat integrasi bangsa, mengelola perbedaan, dan menciptakan harmoni sosial di Indonesia.
Copyrights © 2025