Polemik rendahnya capaian literasi dan numerasi siswa pada jenjang Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang berkepanjangan, sebagaimana dikonfirmasi oleh hasil Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan PISA. Penelitian ini hadir untuk menginvestigasi secara komprehensif akar multidimensi dari masalah ini melalui pendekatan sistemik yang mengintegrasikan peran mikrosistem keluarga dan sekolah. Menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, data kuantitatif dikumpulkan dari 300 responden (siswa, guru, dan orang tua) di MI se-Kecamatan Wonodadi untuk menguji korelasi dan pengaruh pola asuh orang tua dan strategi instruksional guru terhadap capaian siswa. Dilanjutkan dengan fase kualitatif (wawancara mendalam dan observasi) untuk memperdalam temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 35% orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis, dan 65% guru masih mengandalkan metode ceramah mekanistik. Analisis regresi mengonfirmasi korelasi positif signifikan antara pola asuh demokratis dan strategi instruksional inovatif dengan capaian literasi dan numerasi siswa (menjelaskan sekitar 35-39% varians). Temuan kualitatif mengungkap adanya "demokrasi semu" dalam pengasuhan dan dilema pedagogis guru yang terjebak antara tuntutan kurikulum padat versus pembelajaran bermakna. Masalah mendasar yang paling krusial adalah kesenjangan epistemologis dan komunikasi satu arah antara rumah dan sekolah, yang memperlemah upaya peningkatan kompetensi siswa. Penelitian ini menyimpulkan urgensi model intervensi terpadu yang mentransformasi pola asuh orang tua melalui parenting education kontekstual dan menguatkan kapasitas guru dalam strategi instruksional yang inovatif dan berdiferensiasi
Copyrights © 2025